Warga Binaan Rutan Kelas II A Batam Meninggal, Korban Mengenaskan

BATAM, PROJUSTISIANEWS.ID — Keluarga dari Frengki Marpaung (36), warga binaan Rumah Tahan ( Rutan ) Kelas II A Batam, yang meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batu Aji, pada Senin, (19/08/2019) sekitar pukul, 18.00 WIB, mencurigai penyebab kematian FM yang dinilai tidak wajar karena terdapat di sekujur tubuh FM penuh memar membiru dan Lebam. Melihat kondisi jenazah FM tersebut pihak keluarga meminta Kepolisian untuk melakukan otopsi.

Ramadani, istri Frengki Marpaung, yang ditemui di ruang jenazah, Selasa (20/08/2019) atau sekitar pukul 02.00 dini hari, mengaku sekitar dua minggu lalu suaminya masih menghubunginya lewat telepon, dan saat itu ia mendapat kabar suaminya masih baik-baik saja. Bahkan menurut keterangan Ramadani, suaminya masih sempat memberitahukan bahwa ia akan segera dikirim ke Rutan Kelas II A Batam.

“Suami saya ditahan sudah sekitar 4 bulan, dan jadi warga binaan Rutan Kelas II A Batam baru sekitar dua minggu ini. Dan memang baru dua minggu ini saya gak besuk dia, karena dia sempat berpesan, minggu depan jangan lihat saya di sini, (Polres-red) karena saya sudah mau dikirim ke Rutan. Dan selama dia di Rutan saya belum pernah lihat,” jelas Ramadani.

Hal senada juga disampaikan abang dari Frengki Marpaung, yaitu Johan Marpaung mengaku bahwa FM adalah adik kandungnya.

“Dia ini adik kandung saya, yang kudengar dari pihak Kejaksaan tadi, baru dua minggu dia diantar ke Rutan. Jadi informasinya tadi sekitar pukul 11.17 siang, adik saya dibawa ke RSUD ini sudah dalam keadaan kritis. Sekitar pukul 18.00 lewat adik saya sudah meninggal, dan kalau mau lihat ini foto adik saya yang sempat saya abadikan tadi, ‘nah, ini banyak bekas memar-memar di tubuhnya”, jelasnya, sambil menunjukkan foto memar di tubuh Frengki Marpaung.

Pihak Rutan Kelas II A Batam, atau Kasubsi Pelayanan Tahanan, Trian Pratikto, yang juga turut menunggui jenazah di sekitar ruang jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, juga ikut menjelaskan keadaan Frengki Marpaung sampai Frengki Marpaung diantar ke RSUD EF, dan meninggal.

“Informasi dari dokter bahwa Frengki Marpaung ini ada penyakit HIV, kita juga gak bisa mengambil kesimpulan karena soal kesehatan kan tim medis yang lebih tahu. Memang dari keterangan medis saat dia diantar ke Rutan dia sehat. Sedangkan dari pihak Rutan untuk cek kesehatan dilakukan sebulan sekali, sedangkan yang bersangkutan masuk ke Rutan tepatnya tanggal 30 juli, dan belum pernah dilakukan cek kesehatan,” jelasnya.

Saat ditanya tekait luka memar di tubuh Frengki Marpaung, Trian Pratikto menjelaskan, “kalau masalah itu kita serahkan kepada pihak Kepolisian nantinya seperti apa. Kalau nanti dari hasil otopsi ada tindakan di luar SOP yang seharusnya, nanti ‘kan dari pihak Kepolsian ada penyelidikan lebih lanjut seperti apa. Kita tunggu dari hasil otopsi dulu, karena kita tidak bisa menyimpulkan terlalu dini,” kata Trian.

Lanjutnya lagi, “tapi kalau dari pihak Rutan sendiri kami sudah melakukan koordinasi dari pihak pengamanan, dan sejauh ini kita tidak pernah melakukan tindak kekerasan. Tapi di dalam Rutan ‘kan kita tidak selalu bisa kontrol 24 jam, tapi kan bisa dimungkinkan dari tahanan satu kamar juga, ini juga masih baru dugaan awal. Nah untuk selebihnya nanti dari hasil penyelidikan pihak Kepolisian baru diketahui hasilnya seperti apa,” jelasnya lagi.

Lebih lanjut Trian Pratikto menjelaskan, “kita tidak pernah menginginkan hal-hal seperti ini, tapi kejadian seperti ini ‘kan kita tidak bisa elakkan juga ‘kan. Dan informasi dari kantor tim dari Polres sudah mengambil CCTV, rekaman CCTV, dan segala macam untuk barang bukti. Untuk hasil selanjutnya kita tunggu dari pihak Kepolisian,” jelasnya mengakhiri. (independennews.com)

BACA:  Curhat Karyawan Hotel Green Rose, Gaji di Bawah UMK, Lembur Tak Dibayar

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *