Semangat Hidup dari Tumpukan Arang

Projustisianews, Batam – Hari memanas. Sekitar pukul 13.00 wib, Rahel, 45 tahun; bersama kakaknya Jolima, 47 tahun, berjalan menuju dapur di halaman perkampungan Tiangwangkang, Sambil berjalan, keduanya bersiap melakukan pekerjaannya. Rahel menempelkan topi di kepalanya, dan Jolima mengenakan jaket lusuhnya. Mereka berdua sudah siap dengan gergaji berukuran besar berbentuk U. Lalu, mengambil satu per satu batang kayu bakau yang telah tersedia di situ. Menggergajinya, menjadikan potongan kecil.

Satu yang mereka lakukan, mengikuti ayunan gergaji sembari bertolak-tolakan dengan penuh kehati-hatian. Jika tidak, mata gergaji bisa menjadi momok menyakitkan bagi mereka berdua di dapur arang Tiangwangkang, Tembesi, Sagulung, Batam, Kepulauan Riau. Salah menggergaji, tangan mereka bisa terluka. Tak sampai satu jam, keduanya sudah berpeluh keringat. Hari itu memang panas terik. Keduanya, pantas menggunakan topi dan jaket menepis sengatan matahari.

Beberapa lama kemudian, pergesekan gergaji dengan kayu telah mengurangi tumpukan kayu. Sebelum senja, Rahel dan Jolima, harus berlomba dengan waktu untuk menghabiskan tumpukan kayu itu. Matahari mulai meredup. Habis-tak-habis, mereka harus pulang ke rumah masing-masing. Besok hari mereka akan kembali menggergaji. Saban hari, mereka hanya bekerja setengah hari.

Salah satu dapur arang, tempat memasak potongan kayu bakau di kampung tua Tiangwangkang, Batam. (Foto: Nilawaty Manalu)

Kini, giliran suami yang akan turun melaut. “Enak-tak-enak harus dikerjakan. Demi anak,” kata Rahel kepada Projustisia News, 20 Oktober 2020 lalu. Meski perih, namun dengan penuh ketekunan dia bekerja mencari nafkah sehingga kebutuhan anak dan keluarganya terpenuhi. “Sudah bertahun-tahun sudah,” katanya. Suaminya akan pergi melaut, sebelum kayu hasil gergajian tangannya terpenuhi untuk dimasak.

Sulitnya ekonomi keluarga, karena hasil tangkapan ikan tak seberapa, dan tak ada keahlian lain, membuat sebagian warga di Tiangwangkang menekuni pekerjaan sebagai pencetak arang. Rata-rata mereka tak bisa membaca dan menulis. Tak mau seperti mereka, menyekolahkan dan menciptakan masa depan anak-anak menjadi harapan mereka dan hal itu membuat mereka bertahan dengan kerasnya hidup. Dengan membuat arang, dua bersaudara ini mampu menghasilkan uang sekalipun nilainya tak banyak. Dalam dua bulan, mereka memperoleh Rp600 ribu, per orangnya Rp300 ribu. Itu dari dari hasil menggergaji saja. Gaji mereka tidak dihitung per hari, per minggu atau per bulan. Namun, per dapur.

Waktu yang diperlukan untuk per dapur itu dua bulan. Satu minggu dipergunakan untuk memotong-motong kayu. Potongan kayu dimasukkan, disusun ke dalam tungku tanah, yang tak jauh dari tempat itu. Tungku itu berkapasitas tiga setengah ton. Satu hari saja proses memasukkannya. Kayu bakar mulai dimasak di dalam tungku. Untuk membuat kayu menjadi arang, mereka menyebutnya: memasak. Biasanya yang memasak kayu itu adalah suami Rahel dan Jolima. Proses memasak harus selesai dalam waktu delapan belas hari. Setelah delapan belas hari, arang harus didinginkan. Setelah 10 hari proses pendinginan, barulah arang itu dikeluarkan dari tungku.

Rahel dan Jolima bersama warga lainnya, akan kembali bekerja untuk mengeluarkan arang dari tungku. Satu setengah hari lamanya. Kepada Projustisia News, Amos, pengusaha arang, mengatakan untuk satu hari itu, ia harus merogoh kantongnya sebanyak Rp500-600 ribu. Ia membayar per orang Rp50 ribu. Khusus untuk mengeluarkan arang, memerlukan tenaga kerja 10-12 orang. Sebelum menjadi arang, Rahel dan Jolima menggergaji. Setelah menjadi arang, mereka akan menggergaji arang itu kembali. Wajah akan menghitam dan hanya tampak mata saja, akibat serbuk arang menempel di sekujur tubuh mereka.

Memotong sampai memasukkannya ke dalam karung, memakan waktu satu minggu. Setelah dikemas di dalam karung, Amos menjual arang itu kepada pengumpul dengan harga Rp3500 per kilogramnya. Dari sekali mendapur arang, ia mendapat penjualan Rp11,5 juta. Bahan kayu bakau itu ia beli seharga Rp150 ribu per kubik. Kebutuhan satu dapur tiga setengah kubik atau tiga setengah ton. “Dari satu dapur, saya hanya dapat untung satu juta,” kata Amos.

Menjadi pengusaha arang, Amos baru menggelutinya satu tahun. Dulu, orang tuanya yang mengusahai itu. Sejak meninggal setahun yang lalu, Amos meneruskannya. Keinginan untuk meneruskan usaha arang, adalah untuk membantu warga Tiangwangkang yang notabene masih ada pertalian keluarga. Ia mengatakan: “Ada kakak saya (Jolima), paman dan keluarga lainnya. Mereka butuh makan. Saya bantu dengan usaha itu.” Di kampung itu, bukan dia seorang pengusaha arang, tetapi ada beberapa.

Dulu, usaha arangnya besar, tetapi sejak ada peraturan-peraturan, usahanya berkurang. Ia tak menampik, jika ia sering didatangi beberapa petugas dan media, menanyakan masalah izin. Suatu waktu ia pernah didatangi oleh salah satu institusi penegak hukum di Kepri, mempertanyakan izin usahanya. Ia menjelaskan, bahwa ia baru satu tahun meneruskan usaha orang tuanya. Kendati demikian, sejak orang tuanya memulai usaha ini, orang tuanya memiliki izin. Tetapi, pada tahun 2006, entah-berantah, izinnya tidak diperpanjang oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam. Hanya sederhana ia menjawab: “Anda mau, menalangi kebutuhan makan, kebutuhan hidup orang di sini? Kalau Anda bisa menjamin hidup orang di sini, silahkan tutup.”

Amos mengatakan, pihak yang selalu mengatasnamakan kepentingan tak pernah peduli bagaimana nasib warga di kampung tua itu. Tak peduli mereka susah, tak peduli mereka sakit. Ini kampung tua, orang tuanya sudah ada di sini sejak tahun 1960, kata Amos. Ia tak peduli, tanah di Batam ini sudah ada hak mengelola lahannya. “Tapi, kami jangan diganggu. Kami juga butuh hidup, butuh makan,” katanya. Amos mengaku, dirinya memiliki perhatian lebih kepada kampungnya. “Itu paman saya, itu kakak saya. Yang lain juga begitu, mereka juga punya keluarga. Mereka butuh bantuan. Siapa yang hadir membantu kami?” kata Amos.

(Nilawaty Manalu)

 

BACA:  Vape Makin Banyak Telan Korban, Jumlahnya Sampai Ratusan

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *