Pungli Sepanjang Jalan Simpang Rango sampai Jurong

Pungli

ROKAN HULU, PROJUSTISIANEWS.ID — Pungli sepanjang Jalan Simpang Rango sampai Jurong, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Para supir yang melintasi jalan tersebut menjadi resah karena pungli (pungutan liar) ini. Hal ini berdasarkan penelusuran PROJUSTISIANEWS sepanjang perbatasan Kabupaten Bengkalis menuju Jurong pada Rabu (4/8/2021). Para supir menceritakan atas keluhan yang mereka alami selama ini.

Banyaknya titik pungli di jalan sekitaran Jurong, Tegar. Oknum-oknum yang berdomisili di pinggir sekitaran jalan tersebut memungut bayaran. Korbannya adalah pengendara angkutan barang dari  jenis tronton, colt disel, truk tanki, truk ada muatan maupun tidak ada muatan.

Salah satu supir bernama R.T (nama samaran) menceritakan bahwa ia membawa pupuk dari Dumai menuju Jurong. Ia memakai akses jalan perbatasan Bengkalis menuju Jurong. Tujuannya adalah ke pembongkaran perkebunan PT. Graha, PT. Andika, PT. SJI, PT. JSA. Tidak ada jalan alternatif yang lain. Ia seringkali kehabisan uang jalan karena titik pungli cukup banyak. Dalam satu jembatan saja ada 5 titik yang harus mengeluarkan per titik Rp100.000. Ini saja sudah Rp500.000, belum lagi masyarakat di sepanjang jalan melakukan kutipan. Kalau kita tidak memberi, kendaraan harus putar balik. “Terkadang kami tidak membawa uang pulang ke rumah.  Bahkan mereka mengintimidasi bila kami menawar jumlah uang yang mereka minta sebesar Rp400.000. Kalau kurang dari yang mereka minta, tinggal nanti kulit kepalamu. Itulah ancaman seorang bernama Iwan Ginting, asal dari RW Takil Glinting di Desa Tegar Duri, Kabupaten Bengkalis,” ungkapnya.

Mohon Pihak Kepolisian Mengusut Pungli Ini

Beberapa supir juga menyatakan hal yang sama. Apakah memang pihak keamanan atau polisi tidak mengetahui ini semua. Jalan tersebut adalah akses jalan PT. Cezron. Sementara oknum pungli menyatakan bahwa PT. Cezron sudah menyerahkan jalan ini kepada masyarakat setempat.

Terkadang mereka kalau malam hari selalu membawa benda tajam, seperti kelewang, besi, dan kayu. Bila kami melintas di malam hari, mereka bergerombol menyetop kendaraan kami. Mau tidak mau demi keselamatan jiwa, kami terpaksa memberi berapa yang mereka minta.

“Kami bukan membawa barang ilegal. Kami membawa pupuk dari Dumai. Kalau begini situasinya bagaimana dengan keluarga kami. Kami tidak bisa lagi makan, habis dalam perjalanan. Belum lagi dalam situasi pandemi Covid-19 ini sangat sulit cari pekerjaan. Kami tidak tahu lagi harus kerja apa. Semua serba sulit,” keluh salah satu supir.

Awak media beserta LSM BPLK ASN mengatakan kepada para supir akan menjembatani hal ini dalam waktu dekat. Pihaknya akan membuat laporan ke pihak yang berwajib agar semua pungli di sepanjang jalan Jurong dapat ditindak demi kenyamanan supir.

Sampai berita ini terbit pihak media dan LSM BPLK ASN masih melakukan upaya menghubungi pihak kepolisian.

Pewarta: Jonsen Tampubolon

BACA:  Kejam, Sindikat Penjualan Anak di Penjaringan yang Beromzet Rp 2 Miliar Ini Larang Korban Menstruasi

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *