Protokol Kesehatan Beribadah di Gereja

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Dengan akan diizinkannya untuk dapat beribadah kembali di gereja, meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat, maka kami akan menyampaikan beberapa hal penting tentang COVID-19 dan Protokol Kesehatan Beribadah di Gereja:

1. COVID-19 (Novel Coronavirus) adalah virus yang sangat cepat penularannya. Menular dari orang yang terinfeksi kepada orang lain melalui droplet (butiran air sangat kecil yang keluar dari mulut dan hidung saat batuk atau bersin), melalui kontak fisik (jabat tangan, cium pipi) atau memegang benda yang terkena cipratan droplet.

2. Dalam sebuah acara ibadah tentu kita duduk berdekatan dengan jemaat lainnya dalam satu ruangan, namun kita tidak tahu apakah orang yang duduk di samping kita sudah terpapar dengan COVID-19, walaupun secara fisik orang tersebut sehat dan tidak menunjukkan gejala apa-apa (orang tanpa gejala/OTG)

3. COVID-19 akan tetap ada, seperti virus-virus lainnya dan sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk COVID-19. Diperlukan uji klinis yang panjang untuk menciptakan vaksin yang baik untuk mengatasi COVID-19 ini.

4. Saat ini kita telah memasuki masa “New Normal”, di mana hal-hal yang dulu tidak biasa dilakukan, seperti memakai masker, jaga jarak, salam sehati, pakai sarung tangan dll, sekarang telah menjadi kebiasaan baru yang dilakukan semua orang setiap hari.

Mengingat hal tersebut maka kami ingin memberi panduan beribadah di gereja selama masa pandemiK COVID-19 ini.

Protokol Kesehatan Beribadah Di Gereja

1. Sebaiknya ibadah di gedung gereja dimulai beberapa minggu setelah pemerintah setempat mengizinkan untuk bisa kembali beribadah. Hal ini untuk memastikan bahwa kondisi sudah cukup aman dan kita bisa mempersiapkan ibadah dengan lebih baik.

2. Melakukan protokol kesehatan yang mengacu pada Panduan Penanganan COVID-19 dari Kementerian Kesehatan RI, tertanggal 20 Mei 2020, dan instansi terkait sebagai berikut :

1. Datanglah ke gereja dengan berjalan kaki, menggunakan transportasi milik sendiri. Jika menggunakan transportasi umum jangan naik kendaraan yang sampai berdesakan.

2. Jemaat lansia di atas 60 tahun, anak-anak di bawah 12 tahun dan orang dengan komorbid, yaitu: pengidap penyakit lain seperti penyakit paru, hipertensi, gagal ginjal, jantung, diabetes, autoimun, pilek dan batuk harap tetap beribadah dari rumah.
.
3. Tetapkan satu pintu masuk gereja, sehingga semua jemaat dapat menjalankan protokol kesehatan beribadah.

4. Setiba di gereja cucilah tangan dengan sabun di bawah air yang mengalir selama 20 detik atau dengan hand sanitizer sebelum masuk gedung gereja dan sewaktu keluar.

5. Saat memasuki area gedung gereja, sebisanya semua jemaat membersihkan alas kaki bagian bawah dengan keset yang telah dibasahi disinfektan.

6. Melakukan Salam Sehati (menaruh tangan kanan di dada kiri), sehingga tidak ada kontak fisik antar jemaat atau pengerja (physical distancing).

7. Mengukur suhu jika memiliki alat pengukur suhu. Jemaat yang suhu tubuhnya melebihi 37,3 C dianjurkan tidak memasuki ruang ibadah dan dihimbau untuk segera berobat.

8. Bila tidak memiliki alat pengukur suhu maka jemaat yang merasa kurang sehat sebaiknya istirahat di rumah dan dihimbau untuk segera berobat.

9. Mengatur duduk jemaat agar tidak terlalu dekat, berilah jarak antar kursi minimal 1,2 meter (kiri, kanan, depan, belakang) jumlah tempat duduk yang diperkenankan adalah 50% dari kapasitas biasanya.

10. Semua jemaat dan pelayan tetap menggunakan masker selama ibadah berlangsung (termasuk saat menyanyi dan mendengar kotbah).

11. Microphone diadakan tersendiri untuk tiap pelayan (WL, singer, pengkotbah) dengan sarung penutupnya. Setelah ibadah sarung microphone harus dibuang dan microphone dibersihkan dengan disinfektan.

12. Lamanya waktu ibadah diusahakan tidak lebih dari satu jam misalnya pujian 15-20 menit, Firman Tuhan 20-30 menit, pengumuman gereja 10 menit. Paduan suara/vocal group untuk sementara waktu sebaiknya ditiadakan dulu.

13. Persembahan sebaiknya tidak menggunakan kantong kolekte yang diedarkan tetapi bisa dicari cara lain di mana jemaat tidak harus menyentuh kantong kolekte, misalnya dengan menaruh kotak persembahan di pintu gereja dan jemaat bisa memasukkan amplop persembahan yang telah dipersiapkan dari rumah.

14. Jemaat dapat juga memberi persembahan melalui transfer bank atau menggunakan barcode atau QR code.

15. Pada saat melakukan Sakramen Perjamuan Kudus maka nampan Perjamuan Kudus diedarkan oleh pelayan saja, sehingga tidak disentuh oleh jemaat.

16. Ketika ibadah selesai jemaat keluar ruangan satu persatu jangan berdesakan dengan tetap jaga jarak.

17. Jemaat juga jangan terlalu lama berada di area gedung gereja sebelum dan sesudah ibadah, serta dianjurkan untuk langsung pulang ke rumah setelah ibadah selesai.

18. Gedung gereja harus diusahakan untuk selalu dibersihkan dengan disinfektan sebelum dan sesudah ibadah.

19. Harus ada sirkulasi udara yang baik dalam gedung gereja, bukalah jendela agar ada pertukaran udara segar. Bagi gereja yang menggunakan AC, pastikan filter AC rutin dibersihkan dengan disinfektan setiap selesai ibadah.

Demikian panduan dari PDGBI ini kami sampaikan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan jemaat kita dari pandemi COVID-19 pada saat kita memulai kembali ibadah di gereja.

Harap juga selalu memperhatikan informasi dan petunjuk resmi terkini dari pemerintah mengenai pandemi COVID-19 ini.

Sumber Informasi dan Contact Person dari Persekutuan Dokter GBI (PDGBI):
1. dr. Junusmin, 0813 1555 1966
2. dr. Sumayadi, 0812 1877 707
3. PDGBI BPD

BACA:  Perang Melawan Prostitusi di NTT, Perempuan dan Anak-anak jadi Korbannya

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *