Polemik Pembakaran Ulos

PROJUSTISIANEWS.ID, JAKARTA — Beberapa waktu belakangan ini, mencuat informasi viral mengenai tindakan satu kelompok keyakinan tertentu melakukan pembakaran ulos karena dianggap berkaitan dengan penyembahan berhala.

Saya turut prihatin terhadap tindakan pembakaran Ulos atas nama keyakinan tertentu tersebut. Orang tipe demikian belum menggunakan akal pikiran yang diberi Tuhan dengan baik, memiliki wawasan terbatas, dan sesat berpikir yang pada akhirnya sesat pula tindakannya karena dipengaruhi oleh kuasa Roh Jahat melalui pikiran negatif.

Sesatlah cara berpikir orang karena keyakinan lalu menghakimi benda mati, padahal yang membuatnya adalah manusia makhluk mulia sebagaimana membuat pakaian yang dikenakan oleh para pembakar ulos itu. Lalu kenapa tidak sekaligus dibakar saja pakaiannya ya?
Selain itu, mereka sepertinya kurang ‘piknik’, karena pemimpin agamanya juga tidak mampu mengajak piknik dalam arti sebenarnya maupun kiasan.

Secara harfiah, piknik bisa dilakukan ke Tarutung, Muara, Balige, Laguboti, Samosir, dan beberapa sentra pembuat ulos lainnya. Sebagian ulos ditenun secara tradisional menggunakan gedhogan dan sebagian lagi sudah ada yang menggunakan mesin seperti di Balige sejak tahun 1920-an.

Di tempat-tempat tersebut, si pembuat Ulos tidak memberi kemenyan atau jampi-jampi untuk mengawali dan mengakhiri pekerjaannya. Mereka berdoa kepada Tuhan agar diberi kesehatan, rezeki, dan serta banyak pemanfaat dari ulos yang dibuatnya.

Dengan membakar Ulos, tentu bisa membuat kecewa pembuatnya karena dipahami secara salah kaprah. Yang lebih menyedihkan lagi, itu sama saja menghakimi para pembuat ulos sebagai orang yang tidak memiliki iman. Tentu ini membuat prihatin.

Demikian pula secara kiasan, kurang piknik bisa dipahami kurangnya informasi yang didapat oleh sekelompok kecil pembakar ulos tersebut dan belum move on alias berada pada pikiran lama. Yang bersangkutan tidak lagi mau belajar bahwa Ulos merupakan media pengetahuan bagaimana cara berpikir masyarakat Batak ketika itu sudah sedemikian maju, bersahabat dengan alam tetapi juga adaptif terhadap perkembangan di sekitarnya.

Oleh karena banyaknya pesan pengetahuan baik tersebut, apresiasi pun datang, termasuk penghargaan dari Pemerintah RI dengan menetapkan ULOS sebagai Warisan Budaya Indonesia pada Oktober 2014 lalu. Banyak pesan pengetahuan yang dapat dipelajari sebagai kearifan masyarakat, mulai cara membuat ulos, pewarnaan, pengaturan waktu kerja, dan lain sebagainya.

Pada November 2019, BATAK CENTER bersama-sama dengan YPDT, FBBI, FPBP, maupun Himpunan Masyarakat Simalungun telah menyelenggarakan ULOS FEST 2019 di Museum Nasional Jakarta dengan harapan seluruh masyarakat Indonesia, terlebih kepada masyarakat BATAK semakin bisa mengenali ulos sebagai kekayaan budaya Indonesia dari tanah Batak. Ulos merupakan salah satu identitas bagi orang atau masyarakat BATAK.

“Ketika sekelompok kecil yang mengakui dirinya Batak, tetapi tidak mengakui salah satu identitasnya, maka hal ini perlu disikapi secara bijak,” mengutip pandangan dari Ronsen Mangaratua Pasaribu (Ketua Umum FBBI).

Sebagai saran kepada setiap orang yang melihat ulos dalam perspektif negatif atau bahkan sampai membakar ulos sebagai simbol penolakan. Gunakanlah akal pikiranmu dengan baik sebagaimana Tuhan telah memberikannya kepadamu untuk menggali informasi dan pengetahuan tentang ulos serta jangan berhenti pada pemahaman lama, tetapi lihatlah kondisi terkini.

Sesekali pikniklah ke sentra-sentra ulos sebagaimana kusebutkan di atas dan galilah pengetahuan tentang ULOS sebanyak-banyaknya. Jika ada yang gunakan ulos untuk keperluan pemujaan setan, tentanglah tindakannya tidak jadi masalah, tetapi bukan dengan membakar ulosnya.

Sejak tahun 2014, Ulos telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia. Untuk itu, Mari kita sama-sama mendorong agar Ulos juga ditetapkan sebagai Warisan Dunia (World Heritage).

Salam Budaya,
Jhohannes Marbun
Pemerhati Kebijakan Kebudayaan

BACA:  Membasmi Nyamuk Tanpa Fogging

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *