Perihal Jabatan Akademik Profesor – Bagian 1

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Memang, kita sudah terlanjur menyebutnya gelar, bahkan menggantikan nama si penyandang jabatan itu. “Selamat pagi, Prof!” Itulah sapaan, tanpa menyebut nama atau marga saya, yang sering saya terima. Padahal, si penyebut sapaan itu bukanlah pihak yang kepadanya jabatan profesor itu dalamatkan.

Untuk kita ketahui bersama, gelar akademik tertinggi yang dapat kita capai adalah doktor (Dr, bukan DR). Tidak ada lagi gelar akademik di atas itu, walaupun masih ada pendidikan pascadoktoral, yaitu post-doctorate course). Itu tidak bergelar.

Profesor (guru besar madya dan guru besar) bukanlah gelar, tetapi jabatan akademik atau jabatan fungsional pendidik di perguruan tinggi (sekolah tinggi, institut, dan universitas). Belakangan ada jabatan fungsional peneliti dari lembaga atau pusat penelitian, yang disebut profesor riset.

Dalam dunia tenaga pendidik di perguruan tinggi, dikenal tingkatan jabatan akademik/fungsional, yaitu, asisten ahli, lektor, lektor kepala, guru besar madya, dan guru besar. Beberapa perguruan tinggi di luar negeri, menyebut associate professor (Assoc Prof) untuk jabatan lektor atau lektor kepala. Untuk mendapatkan jabatan itu, pendidik/dosen harus mengumpulkan sejumlah kum/kredit (pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat).

Sesuai dengan pengertiannya–jabatan–profesor pun berhenti secara otomatis ketika si penyandang jabatan itu berhenti dari jabatan atau pekerjaannya sebagai pendidik, peneliti, dan pengabdi. Itu bisa terjadi, misalnya, ketika dia pensiun atau ketika dia cuti sementara untuk melakukan pekerjaan lain di luar pekerjaan mengajar, meneliti, atau mengabdi. Hal itu amatlah masuk akal karena dia tidak lagi menduduki jabatan itu. Khusus untuk yang cuti sementara, jabatan akademik yang sudah dilepaskan itu dapat disandang kembali ketika dia kembali ke perguruan tinggi menekuni aktivitas akademiknya, tentu saja dengan sejumlah persyaratan.

Lalu, ada professor emeritus atau professor emerita. Professor Emeritus–Prof (Em)–adalah jabatan akademik yang disandangkan kepada seorang profesor setelah dia pensiun dari kepegawaiannya. Secara normal penyandang profesor, sebagai pegawai negeri atau pegawai yayasan, pensiun pada usia 65 tahun. Setelah itu, masa kerjanya dapat diperpanjang hingga 70 tahun, dengan tetap menyandang jabatan akademik/fungsionalnya. Hingga usia 70 tahun mereka berhak menyandang jabatan itu dan mencantumkan Prof di depan namanya. Kalau pihak perguruan tinggi merasa tenaga dan keahliannya masih dibutuhkan, masa kerjanya dapat diperpanjang lagi setelah usianya 70 tahun. Pada masa perpanjangan tahap kedua ini, dia masih menduduki jabatan akademiknya dengan jabatan profesor emeritus. Di depan namanya dia berhak mencantumkan Prof (Em).*

Oleh karena itu, seorang profesor yang sudah meninggalkan pekerjaan akademiknya, yang secara otomatis tidak lagi menjabatnya, haruslah melepaskan jabatan Prof itu dari depan namanya. Dan, yang sebenar-benarnya, ketika seorang profesor tiba-tiba ‘berprofesi’ sebagai raja adat (parsinabun), misalnya, dia tidak boleh mengaku-ngaku sebagai profesor di situ, karena dia tidak sedang melakoni keprofesionalan akademiknya di urusan adat-istiadat itu.

*)Kebiasaan di univeritas yang budaya akademiknya sudah baik dan mapan, mereka melaksanakan sidang senat untuk purnatugas professornya, bahkan acara ini yang lebih ditunggu-tunggu daripada acara pengukuhannya. Di saat itulah sang profesor menyampaikan pidato ilmiah perpisahannya. ITB, misalnya, pernah melakukannya kepada pofesor kebanggaan mereka, Prof (Em) Pantur Silaban, Sang Mahaguru Fisika Teoritik itu.

Penulis: Albiner ‘Rabar’ Siagian

Foto: Pantur Silaban (Guru Besar ITB)

BACA:  Dosa Ekologis dan Covid-19

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *