Perang Melawan Prostitusi di NTT, Perempuan dan Anak-anak jadi Korbannya

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Jaringan Peduli Anak dan Perempuan NTT – DEBORA merasa sangat prihatin dengan makin maraknya prostitusi online di beberapa daerah di NTT (Nusa Tenggara Timur). Hal ini disampaikan DEBORA dalam rilis yang dikeluarkan pada Minggu (21/6/2020) kepada PROJUSTISIANEWS.

DEBORA menyebutkan bahwa dalam beberapa kasus prostitusi terbukti telah melibatkan perempuan, anak perempuan, bahkan anak laki-laki. Kebanyakan korban adalah bagian dari perdagangan manusia untuk dieskploitasi secara seksual dan kebanyakan korban tidak mengetahui risiko dari pekerjaan yang mereka lakukan.

Prostitusi seperti ini merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM), hak perempuan dan hak anak. DEBORA meminta agar pemerintah dan aparat berwenang memberantas praktik prostitusi tersebut melalui penegakan hukum di negeri ini.

Beberapa media sudah banyak memberitakan kasus prostitusi di NTT, misalnya kasus prostitusi di Kabupaten Ende, NTT (Pos Kupang, 6/6/2020): Prostitusi Online di Ende, Transaksi di Depan Pasar Potulando Modus Nongkrong. Kasus di Sumba timur (10/3/2019) dan kejadian di Kupang menyusul tertangkapnya beberapa Mucikari prostitusi online yang melibatkan anak (Kompas.com, 14/3/2019). Kemungkinan juga masih ada kasus-kasus lain di wilayah NTT.

“Maraknya praktik prostitusi berkorelasi dengan tingginya angka kemiskinan di NTT, perubahan orientasi, pola dan gaya hidup generasi muda yang ingin tampil mewah secara instan, dan berpusat pada diri sendiri (egosentris). Belum lagi ditambah dengan lunturnya nilai-nilai luhur dalam adat istiadat di NTT yang menjunjung tinggi kehormatan perempuan dan melindungi anak-anak,” ungkap DEBORA.

Sebenarnya masyarakat tahu bahwa prostitusi adalah persoalan sosial, namun tidak tahu harus berbuat apa, dan tidak mau direpotkan dengan urusan orang lain. Karena itu, pemerintah daerah, penegak hukum, dan aparat berwenang perlu bertindak tegas dalam menanggulangi praktik prostitusi tersebut agar tidak merebak dengan subur. Apalagi sekarang NTT sedang gencar-gencarnya dipromosikan sebagai destinasi pariwisata andalan Indonesia. Karena itu, peningkatan program pariwisata daerah NTT harus selalu seiring dengan penguatan perlindungan perempuan dan anak.

“Perlindungan perempuan dan anak, harus menjadi prioritas dalam program pembangunan, dan masuk dalam pertimbangan dan perencanaan program pembangunan di segala bidang, termasuk pariwisata,” tegasnya.

DEBORA juga meminta segala bentuk pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya kekerasan dan eksploitasi seksual, diselesaikan dengan tuntas dalam keberpihakan terhadap korban. Semua pihak yang terkait dengan persoalan perlindungan perempuan dan anak, harus bekerja sama untuk mendorong percepatan program Kabupaten/Kota layak anak, sehingga kerja perlindungan anak dapat dilakukan secara sistematis, masif dan terstruktur, sampai ke tingkat desa/kelurahan. Pelibatan masyarakat melalui penguatan PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat) menjadi sangat krusial.

DEBORA adalah wadah yang didukung penuh oleh Uskup Keuskupan Agung Ende dan di dalamnya bergabung antara lain, Yohana Afra Baboraki Koordinator LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Peduli Kasih Ende, Richard Radja Ray (Jaringan Diaspora NTT), Veronika Ata (Ketua LPA NTT), Maria Lenjte Pelapadi (Koordinator Proyek Konsorsium Lembaga Pemberdayaan Anak dan Perempuan Flores), Gabriel Sola (Lembaga Hukum dan HAM Padma Indonesia), Pater Sandro Bataona, SVD (Koordinator Solidaritas Perempuan Flores Lembata dan Alor), Dr. Laurentius D. Gadi Djou (Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores), Chandra Dethan (Manager Child Fund NTT), dan lainnya.

Pewarta: Boy Tonggor Siahaan

BACA:  Presiden Jokowi Jenguk Menkopolhukam di RSPAD

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *