Pasokan Elpiji 3 Kg Tersedia Hingga Desember 2020 di Batam

Projustisianews, Batam – Pasokan liquified petroleum gas (LPG) 3 kg, dipastikan tersedia hingga bulan Desember 2020, di Kota Batam. Hal itu dikatakan Roby Hervindo, Manager Communication, Relations & CSR Pertamina MOR I, kepada Projustisia News, Senin, 19 Oktober 2020.

Ketika menyoal LPG 3 kg yang sulit ditemukan di Batam beberapa waktu lalu, Roby mengatakan, penyaluran dari Pertamina ke pangkalan, sebenarnya tidak ada masalah. Bahkan hingga bulan Desember nanti, stok LPG masih tersedia. Kendati demikian, ia tidak menampik informasi kelangkaan LPG di Batam. Dari hasil koordinasi dan inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam dan pihak kepolisian, kata Roby, terjadinya kelangkaan LPG itu, ditengarai oleh para pengecer.

Roby mengatakan: “Kita sudah menyalurkan 13,2 juta tabung. Sisa untuk sampai Desember sekitar 4,8 juta tabung, dan itu tidak ada kendala.” Menurut pengamatan Pertamina yang berkantor di Jalan Yos Sudarso nomor 8-10, Silalas, Medan, Sumatera Utara ini, kelangkaan LPG di Batam, karena semakin meningkatnya aktivitas di tingkat pengecer.

Pertamina MOR I Medan, pastikan pasokan elpiji 3 kg, tersedia hingga bulan Desember 2020 di Batam. (Foto: Nilawaty Manalu)

Di masa pandemi covid-19, masyarakat di Kota Batam banyak yang beralih profesi menjadi pengecer LPG. Akibat berkurangnya aktivitas di luar rumah, sebagian masyarakat mengalihkan kegiatannya. Selain itu, pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di beberapa perusahaan, membuat sebagian masyarakat menekuni usaha baru, salah satunya menjadi pengecer LPG. Akhirnya, LPG terserap banyak yang mengakibatkan elpiji langka di pasaran. “Mereka mengambil di pangkalan. Di pangkalan habis, di pengecer tersedia,” kata Roby.

Bagaimanapun, kata Roby, harga eceran tertinggi di jenjang pengecer selalu berbeda di pangkalan. Untuk menyikapi hal itu, Pertamina sudah melakukan langkah fakultatif (tidak diwajibkan), yakni penambahan karena melihat situasi yang terjadi di Kota Batam. Di mana jika penyerapan elpiji sebanyak 1120 tabung itu lebih sedikit, Pertamina tidak akan memaksakan untuk menyalurkannya. Kemudian, Pertamina juga melakukan pengaturan dan mengontrol terhadap penambahan fakultatif. Setiap keluarga hanya dapat membeli satu tabung elpiji. Persyaratannya, dengan menunjukkan kartu keluarga dan fotokopi KTP. Kata Roby: “Memang kita siapkan penambahan itu totalnya sekitar 1120 tabung.”

Kepada Projustisia News, Roby berharap, agar ke depan setiap pangkalan elpiji di Batam, bisa menjual LPG langsung kepada masyarakatnya, bukan ke pengecer. Sementara itu, kepada pemerintah daerah Kota Batam, melalui Disperindag, Roby mengharapkan agar organisasi perangkat daerah (OPD) itu tetap melakukan monitoring, supaya kelangkaan LPG tidak terjadi lagi. “Kiranya pemda bisa meningkatkan dan melakukan penindakan tegas kepada pengecer. Kita sama-sama meningkatkan sinergi di lapangan, baik dengan aparatnya,” katanya. Ia mengkhawatirkan, tabung-tabung elpiji yang telah disalurkan pasca penambahan, akan berpindah tangan lagi kepada pihak pengecer, karena minimnya pengawasan.

Tak hanya itu, pasokan elpiji untuk bulan berikutnya juga akan semakin berkurang. Untuk menutupi kekurangan di bulan ini, Pertamina terpaksa harus mengambil jatah yang diperuntukkan untuk bulan depannya. “Jika terlalu banyak penambahannya, bulan depannya jadi sedikit. Takutnya, tidak mencukupi nanti sampai akhir tahun,” katanya. Di bulan Oktober ini, Pertamina sudah menyalurkan melebih dari kuota.

Terakhir ia mengatakan, masyarakat pun bisa berpartisipasi aktif melakukan pengaduan kepada Pertamina melalui call center 135 dan melalui email ke pertaminaclean@tipoffs.com.sg , apabila ditemui indikasi penyimpangan terhadap penyaluran elpiji. Ia mengingatkan warga Batam untuk tidak panik membeli LPG, tetapi sebaiknya warga membeli elpiji sesuai dengan kebutuhan saja. “Tidak perlu menyimpan di rumah. Pasokannya tersedia sampai akhir tahun,” katanya.

Sementara itu, kepada warga berekonomi mampu, ia mengingatkan untuk tidak menggunakan elpiji 3 kg. Karena elpiji itu diperuntukkan kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Pasalnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau, pengguna tabung elpiji sebanyak 90 persen. Pengguna elpiji di luar tabung 3 kg hanya 10 persen. “Padahal jumlah masyarakat miskin di Batam, kurang dari 10 persen,” kata Roby.

(Nilawaty Manalu)

 

BACA:  Legalitas Ruli Menjadi Perhatian Lukita Dinarsyah

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *