Nasehat Emas B. J. Habibie Sebelum Meninggal

JAKARTA, PROJUSTISIAWEB.ID — Pada Rabu (11/9/2019) sekitar pukul 18.05 WIB, Presiden RI ke-3, B.J. Habibie, meninggal dunia dalam usia 83 tahun. Ketika dikonfirmasi kepada Kepala RSPAD Dr Terawan, ia mengatakan bahwa Habibie telah menutup mata untuk selama-lamanya. Habibie meninggal di RSPAD Gatot Soebroto setelah dirawat di RS tersebut.

Beberapa saat setelah meninggal, cucu keponakan BJ Habibie, Melanie Subono, sempat memposkan berita kepergian kakeknya B.J. Habibie di Halaman (Page) Facebooknya Melanie Subono. Melanie Subono menulis:

Eyang … SAMPAI JUMPA DI KEABADIAN … Senangnya dah bisa ngelepas kangen sala eyang puteri, bisa berdua-duaan lagi… Kita di sini ikhlas asal eyang bahagia — SELAMAT JALAN — –

Terimakasih sudah membuat Indonesia jauh lebih baik, terimakasih sudah mengajarkan saya jadi PEJUANG , kalo bahasa eyang “PEMBERONTAK” –

Love you –

B. J. Habibie bersama cucunya Melanie Subono saat merayakan ulang tahunnya ke-83. “Inilah foto terkahir dengan eyang,” kata Melanie. Sumber: Halaman (Page) Facebook Melanie Subono.

Sekitar di awal tahun 2019, sebuah pesan dari B.J. Habibie sempat viral di WhatsApp (WA). Pesannya tersebut belum jelas apakah ditulis Habibie atau orang lain yang menulis ulang pidatonya. Pembuat pesawat Nurtanio itu menuliskan tentang kisah hidupnya yang sangat menyentuh. Berikut apa yang tertulis di WA:

SAAT KEMATIAN ITU KIAN DEKAT

KALAULAH SEMPAT? Renungan untuk kita semua!!!!

(Ketika BJ Habibie berpidato di Kairo, beliau berpesan “Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu teknologi, sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih manfaat untuk umat Islam. Kalo saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu Agama.”)

Sepi penghuni…
Istri sudah meninggal…
Tangan menggigil karena lemah…
Penyakit menggerogoti sejak lama…
Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman… Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu…

3 anak, semuanya sukses… Berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri…
» Ada yang sekarang berkarir di luar negeri… »
Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi… »
Dan ada pula yang jadi pengusaha …
Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol » semuanya kaya raya…

Namun….
Saat tua seperti ini dia ‘Merasa Hampa’, ada ‘Pilu Mendesak’ di sudut hatinya..

Tidur tak nyaman…
Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yang penuh kenangan.

Di rumah yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur.

Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya….
Dari sudut mata ada air yang menetes.. Rindu dikunjungi anak-anaknya

Tapi semua anaknya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain…
Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan….

Sudah terlanjur melemah…

Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak…
Sepanjang waktu ….   

Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya….
Atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti.
Hanya menunggu sesuatu yang tak pasti.
Yang pasti hanyalah KEMATIAN.
Rumah Besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya…
Anak Sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC.
Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang.
Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa?

Kira-kira jika malaikat ‘Datang Menjemput’, akan seperti apakah kematiannya nanti

Siapa yang akan memandikan?

Di mana akan dikuburkan?

Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?

Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti?
Rumah akan ditinggal, asset juga akan ditinggal pula.
Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak?
Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan?
Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama? Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja.

‘Kalaulah Sempat’ menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di Jalan Allah yang lainnya.

‘Kalaulah Sempat’ dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang.

‘Kalaulah Sempat’ memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan.

‘Kalaulah Sempat’ membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat dan handai taulan.

Kalaulah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi ‘Amal Penolong’-nya.

Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi ‘Orang yang Saleh’, dan ‘Ilmu Agama’ nya lebih diutamakan.

Ibadah sedekahnya dibimbing/diajarkan & diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan ‘Terbangun Malam’, ‘Meneteskan Air Mata’ medoakan orang tuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang, sehingga bermanfaat bagi sesama.

“KALAULAH SEMPAT”

Mengapa kalau sempat?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita?  Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri.  Kenapa kita tidak lebih serius?

Menyiapkan Bekal’ untuk menghadap-NYA dan ‘Mempertanggung Jawabkan’ kepada-Nya?
Jangan terbuai dengan ‘Kehidupan Dunia’ yang  bisa  melalaikan.

Kita boleh saja giat berusaha di dunia….tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang & kekal di akhir Hidup kita.

Semoga Bermanfaat…!

(Prof Dr Ing B. J. Habibie)

 

BACA:  RI kalah saing berebut investor dengan Vietnam, ini penjelasan Sri Mulyani

Sumber: detik.com dan WA

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *