Naimarata se-Barelang Tak Mengarahkan Memilih Calon Tertentu

Projustisianews, Batam – Sukses demokrasi adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Menyadari kedudukannya sebagai bagian masyarakat Kota Batam dan Provinsi Kepulauan Riau, kesatuan Naimarata (Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Silauraja) se-Barelang, menyatakan sikap menjelang pesta demokrasi yang akan dilaksanakan 9 Desember 2020. Pernyataan sikap itu digaungkan, mengingat masyarakat di Kota Batam dan Kepri, terdiri dari banyak suku, etnik, golongan, agama, dan pandangan politik yang beragam.

Saat ini jumlah anggota Naimarata di Kepri kira-kira 20.000 kepala keluarga, belum termasuk jumlah pemuda-pemudinya. Kesemuanya itu tersebar di 14 sektor kepala keluarga dan 3 sektor naposo (pemuda-pemudi). Mengingat jumlah yang tidak sedikit itu, Benhauser Manik, Ketua Umum Naimarata se-Barelang, mengingatkan keturunan Naimarata, untuk menjunjung tinggi nilai luhur falsafah budaya Batak, yakni membangun toleransi, saling menghargai dan memelihara persatuan. Di mana nilai luhur itu tidak bertentangan dengan nilai luhur Pancasila, sebagai asas demokrasi masyarakat Indonesia.

Peserta pemilu untuk Kota Batam tahun 2020, diikuti oleh dua pasangan calon, sedang untuk Provinsi Kepri, ada tiga pasangan calon. Benhauser mengatakan: “Kita tidak mau hanya karena pesta demokrasi ini, anggota di sektor, masing-masing membentuk opini dan menciptakan penggiringan untuk memilih salah satu dari calon.” Menurutnya, siapa pun calon yang telah ditetapkan oleh penyelenggara pemilu (Komisi Pemilihan Umum) sekarang, mereka adalah putra-putra terbaik daerah.

Maka, Naimarata memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada sektor masing-masing untuk menggunakan hak pilihnya. Naimarata tidak memberikan arahan untuk memilih satu pasangan calon tertentu. Para pengurus ini tidak mengingini perpecahan di dalam tubuh Naimarata hanya karena komunikasi tidak terjalin lagi, imbas dari instrumen politik yang berkembang. Karena pada saat ada pengarahan khusus, maka hal ini akan menimbulkan pertentangan. Sedangkan pihak-pihak yang bertentangan sama-sama memiliki massa dan kekuatan.

Kehadiran Naimarata se-Barelang di tahun politik ini, kata Benhauser, harus bisa sebagai pendingin suasana. Pasalnya, ia mengamati, banyak kelompok-kelompok yang sudah memberikan pernyataan: “Kami mendukung si A, kami memberikan dukungan ke si B.” Naimarata dengan tegas mengatakan, mendukung kedua pasangan calon. Hanya saja, tentang pilihan, Benhauser berpendapat itu kembali ke pribadi masing-masing, mengenai siapa yang akan dipilih menurut kata hatinya. Karena siapa pun yang nantinya terpilih, maka itu adalah putra terbaik di kota ini.

Hal itu dilakukan Naimarata agar tidak ada saling menonjolkan dan saling menjatuhkan di punguan (kumpulan) marga itu. Ia berkata: “Kita tidak mau itu. Yang kita mau itu adalah sama-sama untuk berdemokrasi secara baik.” Sebab, tujuan berdemokrasi itu, kata Benhauser, adalah keberagaman pemikiran, tetapi harus selalu dibungkus dengan semangat kebersamaan.

Ia tidak menampik bila di internal Naimarata saat ini, hal itu mulai terjadi. Oleh karena itu, Jumat 2 Oktober 2020, Batam Center, Benhauser memberikan pernyataan sikap dengan tujuan agar kesatuan Naimarata menghindari konflik saling tanya jawab, saling menonjolkan keunggulan dan kelemahan bahkan saling menjatuhkan. Sebab, jika hal itu dibiarkan, dikhawatirkan perpecahan di tubuh Naimarata sendiri pun bisa terjadi.

Tetapi sebagai warga negara yang baik, ia berharap seluruh Nairmarata se-Barelang harus memberikan kontribusinya untuk mendukung pesta demokrasi yang menjadi agenda lima tahunan. Untuk semua anggota Naimarata, Benhauser, yang didampingi Saiful Limbong, sekretaris umum Naimarata se-Barelang, dan Adfenfry Manik, meminta dengan sangat untuk saling menghargai hak pilih. Setiap orang berhak untuk memilih calon yang layak menurut penilaian sendiri. Karena setiap orang punya sudut pandang berbeda menilai kepemimpinan sosok seseorang.

Sementara itu, Adfenfry Manik, Wakil Sekretaris Naimarata se-Barelang, mengatakan, tidak ditentukan-nya sikap ke salah satu calon mulai dari tingkat basis sampai ke tingkat yang lebih tinggi, Naimarata bukan berarti tidak bisa diajak bekerja sama. Tetapi, menurutnya, inilah bentuk kedewasaan berdemokrasi yang telah dibina selama ini di kesatuan Naimarata. Adfenfry mengatakan: “BPH (Badan Pengurus Harian) Naimarata, mengimbau kepada semua, jangan sampai ada yang golput (tidak memilih). Kita mendukung kebebasan memilih siapa pun di antara 2 calon di kota Batam, demikian juga untuk calon di Kepri.”

Senada juga disampaikan Saiful Limbong, Naimarta tidak mengarahkan anggotanya ke salah satu kandidat, artinya Naimarata memberikan hak politik yang wajib dimiliki oleh pemilih, yakni langsung, umum, bebas, dan rahasia. Ia mengatakan: “Naimarata memberikan peluang kepada anggotanya untuk memilih yang terbaik di antara yang terbaik. Ayo, lakukan hak pilih yang terbaik.” Demokrasi dengan pemerintah adalah dua hal yang tak terpisahkan. Ketika pemerintah berhasil, kata Saiful, berarti demokrasi juga berhasil dilakukan masyarakat.

Namun, ia memohon kepada pemerintah, agar hak pilih masyarakat benar-benar diberikan. Sebab, masih banyak masyarakat yang tidak bisa memilih karena terganjal persyaratan, misalnya kartu identitas yang dimiliki warga yang tidak bisa digunakan di daerah pemilihannya. Oleh karena itu ia meminta perhatian pemerintah agar memastikan keterlibatan warga yang sudah berhak memilih bisa menggunakan hak suaranya. (Nila)

 

BACA:  Generasi Muda Batak Bentuk Organisasi Persatuan Batak Bersatu di Kabupaten Siak

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *