MRAN 2019: Membagi Kenangan dan Menguatkan Kepedulian

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Meningkatnya jumlah penduduk yang terinfeksi virus HIV dan masih kuatnya stigma terhadap sesama manusia yang terinfeksi HIV dan AIDS (SEMATHA) di Indonesia menjadi perhatian dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) serta para insan peduli isu HIV dan AIDS dalam Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2019. Kegiatan yang diinisiasi bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan (KKC), Biro Pemuda dan Remaja (BPR), serta Biro Perempuan dan Anak (BPA) PGI ini dilaksanakan lintas iman dan organisasi.

Berlokasi di Grha Oikoumene, MRAN 2019 yang dihadiri puluhan orang yang peduli isu HIV dan AIDS tersebut dirangkaikan dengan beberapa kegiatan, seperti berbagi takjil kepada pengguna jalan di Salemba Raya, buka puasa bersama, doa dan renungan lintas iman, penyalaan lilin komitmen, pembacaan sajak, dan aktivitas kebersamaan.

Meskipun upaya penyadaran masyarakat mengenai HIV dan AIDS sudah tidak segencar beberapa tahun lalu oleh berbagai kalangan, termasuk pemerintah, bukan berarti persoalan ini sudah selesai. Di banyak tempat sebagai buktinya, muncul kasus-kasus baru penularan virus HIV, baik terhadap orang dewasa maupun anak-anak.

Persoalan ini semakin diperburuk dengan stigma oleh kelompok-kelompok masyarakat, termasuk umat beragama, yang mendiskriminasi dan mengeksklusi para SEMATHA di lingkungannya.

Dalam MRAN 2019 yang dilaksanakan pada, Selasa (28/5/2019) ini, para peserta turut mengenang para SEMATHA yang telah meninggal dunia. Sebelum mereka meninggal, ada berbagai kenangan yang menarik untuk dibagikan. Misalnya saja, ada SEMATHA yang gigih berjuang untuk membantu SEMATHA lainnya, meski harus mengorbankan kondisi kesehatannya. Pernah ada SEMATHA yang popular dan memiliki karir profesional, serta membahagiakan banyak orang selama ia hidup. Ada pula SEMATHA yang masih berusia anak-anak namun hidup penuh semangat dan menjadi teladan bagi SEMATHA lainnya hingga ia menghembuskan nafas terakhir.

Kenangan akan SEMATHA yang telah pergi meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabatnya ini dibalut komitmen untuk semakin peduli terhadap isu HIV dan AIDS di Indonesia. Dengan tema “Mengintensifkan Perjuangan untuk Akses Kesehatan dan Hak-hak Dasar,” para peserta MRAN 2019 kali ini diajak untuk semakin memperhatikan hak-hak dasar para SEMATHA dan membantu mereka untuk dapat mengakses fasilitas kesehatan yang pemerintah sediakan.

Dalam doa lintas iman yang dipimpin oleh perwakilan Kristen, Katolik, Islam dan Baha’i pada MRAN 2019 ini mengangkat permohonan kepada Tuhan agar melindungi para SEMATHA dan keluarganya. Di dalam doa-doa tersebut, ada harapan pula agar warga negara Indonesia semakin peduli terhadap SEMATHA serta usaha-usaha untuk menghentikan penularan virus HIV di masyarakat.

Komunitas Sandal Jepit yang hadir dan memfasilitasi (konsumsi dan perlengkapan) acara MRAN 2019 ini turut menyampaikan kesan mereka akan keterlibatan perdananya bersama para insan peduli isu HIV dan AIDS. Komunitas yang terdiri dari para pendeta GPIB ini turut mengakui bahwa penularan HIV dan AIDS ini nyata terjadi di lingkungan gereja sendiri, namun sering kita tidak menyadarinya, bersikap tak acuh atau bahkan turut mendiskriminasi para SEMATHA.

Menurut mereka, hal ini menjadi tugas umat beriman untuk menolong sesama yang selama ini terabaikan, serta membuang jauh rasa takut berlebihan dan yang justru semakin menguatkan stigma terhadap SEMATHA.

Kegiatan MRAN 2019 ini sendiri telah menguatkan rasa kebersamaan di antara para pesertanya. Beberapa organisasi yang hadir berkomitmen untuk mengadakan kegiatan serupa lainnya ke depan dengan bergantian sebagai tuan rumah pelaksanaan. (BTS)

BACA:  Bupati Bantul Cabut Izin Pendirian Gereja Pantekosta

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *