Mengapa Pastor Hidup Selibat?

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Dulu saat saya tahu Imam Katolik (Pastor) harus hidup selibat dan sengaja menghilangkan semua kenikmatan duniawi dari hidupnya, saya pikir itu tidak masuk akal. Hal ini mendorong saya mengangkatnya menjadi topik skripsi saya.

Saya kuliah di jurusan Psikologi dan saya sendiri seorang Muslim. Sebagai Muslim dan non Katolik, ketika itu saya pikir selibat Pastor itu menyalahi kodratnya sebagai manusia, apalagi ia seorang laki-laki. Saya tulis di Bab 1 semua hal yang mendukung pendapat tersebut.

Ketika saya menyerahkan tulisan tersebut ke pembimbing skripsi saya, saya yakin 100% dia bakal dukung ide saya karena dia juga seorang Muslim.

Namun, saya kaget melihat reaksi pembimbing saya. Katanya: “De, tidak bisa gini. Buang dulu kacamata Muslim kamu dan lihat gimana sucinya sosok pastor di mata umat Katolik. Apa keutamaan pilihan ini. REVISI!”

Karena itu, saya merivisi Bab 1 yang memakan waktu 3 semester sampai disetujui pembimbing saya, sehingga saya telat lulusnya.

Saya keluar masuk gereja, baca injil dan kitab Hukum Kanonik, nonton misa, ke perpustakaan Katolik, Mengumpulkan jurnal, dan tentunya menghubungi para pastor yang akan jadi responden saya.

Meskipun demikian, hipotesis saya soal selibat menyalahi kodrat belum hilang, sampai akhirnya saya mulai wawancarai para responden saya.

Awalnya, pertanyaan saya seputar cobaan duniawi terberat. Saya yakin 100% jawaban mereka pasti terkait hasrat seksual karena mereka adalah laki-laki.

Jawaban mereka ternyata bukan itu. Ternyata bagi mereka, cobaan terbesar hidup selibat adalah kesepian.

Sejak itu, pandangan saya berubah. Kesepian adalah bahasa yang universal. Mungkin itu mengapa saya mulai bisa memahami mereka.

Responden saya ada dua pastor dan jawabannya sama. Saya temui mereka beberapa bulan, terpisah, dan jawabannya konsisten.

Mereka manusia biasa juga. Bedanya mereka mengerti cara menerima kesepian, sementara saya tidak.

Saat menjadi Pastor, mereka jadi milik gereja. Artinya, keluar dari keluarga, tidak boleh memiliki hubungan khusus dengan satu/beberapa manusia saja, dan mereka sudah jadi milik umat.

Kalau sedih, mereka tidak bisa curhat ke orang lain. Kalau sakit, mereka berobat sendiri. Umat bisa memberi bantuan, tetapi mereka tidak boleh minta.

Mengapa begitu? Untuk Selibat ada 3 Kaul yang harus diucapkan:

– Kaul Kemiskinan: melepas semua harta dan segala hak milik.
– Kaul Kemurnian: tidak menikah dan lepas dari segala hawa nafsu.
– Kaul Ketaatan: menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak Tuhan (gereja).

Jika mereka menemui kesulitan dan derita, mereka sendirian. Pasrah sepenuhnya kepada Tuhan. Kita tahu bagaimana rasanya memendam penderitaan dan tidak bisa minta perhatian orang? Berat bukan?

Dalam kesendirian, iman mereka diuji. Mereka menghadapi hilangnya hal-hal yang pernah ada di hidupnya. Meskipun berat, kuncinya sederhana: komitmen.

Mereka tahu, cobaan yang ada perlu hadir, menjadi penguatan untuk memimpin umat, menjadi adil. Ini adalah tanggung jawab menjadi Imam. Inilah wujud cinta.

Karena itu, mengapa seorang pastor sering disebut “Menikahi Gereja.” Mirip kan dengan komitmen nikah?

Agar bertahan, mereka berkomitmen untuk “menerima” deritanya. Toleran pada prosesnya sebagai penguatan. Siap berkorban.

Di sini saya mulai menyadari bahasa cinta pada Agama Katolik. Yang akhirnya, membuat saya sadar bahwa bahasa cinta itu ada di setiap agama, termasuk Islam juga.

Lucu ya, untuk memahami agama sendiri, saya harus lewat belajar agama lain dulu.

Komitmen, toleransi, dan pengorbanan adalah bahasa tertinggi cinta kasih manusia.

Prosesnya pasti rumit dan banyak kehilangan, tetapi itu akan membuat kita kuat sebagai manusia.

Ini pelajaran berharga yang saya dapatkan dari mereka, walaupun saya masih sering gagal dalam prakteknya.

Singkat cerita, skripsi saya akhirnya disetujui dan lulus.

Namun demikian, ada hal yang lebih saya syukuri. Saya lulus dengan bonus pandangan yang baru, yaitu:

Pandangan soal manusia lain, jadi beda.
Pandangan soal agama, jadi beda.
Pandangan soal perbedaan, jadi beda.
Soal cinta dan komitmen, juga.

Penulis: Desy Kartika Sari (Disadur dari Akun Twitternya sendiri @dekaridisini)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

BACA:  Pak Gubernur yang Berteluk Belanga dan Berkopiah Merah ke Mana-mana

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *