Menag: Dialog Penting untuk Mencari Jalan Keluar Bersama

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Maraknya radikalisme berimbas pada banyaknya persoalan kehidupan keagamaan di Indonesia. Salah satunya adalah gangguan beribadah karena penutupan rumah ibadah oleh kelompok-kelompok tertentu. Salah satu upaya untuk menekan persoalan ini, yaitu: perlunya dibuka ruang dialog dengan kelompok-kelompok yang berbeda. Hal tersebut ditegaskan Menteri Agama Republik Indonesia, Fachrul Razi, pada saat menerima kunjungan MPH PGI (Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) di Kantor Kementerian Agama Jakarta, Jumat (22/11/2019).

Menteri Agama menekankan bahwa posisi Kementerian dalam persoalan tersebut lebih kepada fasilitator dalam membuka ruang-ruang dialog. “Saya lebih menekankan agar selalu diawali dengan dialog, jangan cepat-cepat bilang tidak bisa, karena setiap orang punya pandangan yang berbeda. Harus dicari jalan keluar bersama, karena sejak dari awal memang kita sudah beragam,” tegas Menag.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum PGI Gomar Gultom menyampaikan berbagai isu hangat dibicarakan dalam Sidang Raya XVII. Sumba sebagai lokasi persidangan tersebut perlu mendapat perhatian karena kondisi alam yang tandus, namun punya potensi pariwisata yang luarbiasa. Kondisi alam ini mengakibatkan warga memilih keluar dari Sumba dan menjadi pekerja migran. Sayangnya tidak sedikit yang kembali dalam kondisi jadi mayat. Bahkan sebagian menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Gomar Gultom menyampaikan juga bahwa angka stunting (kekurangan gizi) sangat tinggi di Indonesia termasuk di Sumba, sudah melebihi batas yang ditetapkan oleh WHO. Peran gereja-gereja dalam mengatasi persoalan ini sangat dibutuhkan.

Menag RI menyambut antusias isu tersebut karena menurutnya, Presiden Jokowi juga menaruh perhatian serius terhadap persoalan stunting, dan merupakan kekhawatiran bersama akan masa depan generasi Indonesia.

Salah satu yang ditekankan oleh Kemenag adalah perlunya bimbingan perkawinan agar pasangan yang menikah mengetahui sejak awal apa yang dilakukan mencegah stunting. Gomar Gultom juga menyerahkan dokumen hasil-hasil Sidang Raya XVII PGI dan berharap kehadiran Menag dalam acara serah terima Majelis Pekerja Harian yang terpilih dalam Sidang Raya Sumba pada 12 Desember 2019.

Dalam percakapan tersebut, secara khusus MPH PGI menyampaikan aspirasi dari Huria Kristen Indonesia (HKI) Juanda, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya yang sudah berdiri sejak 4 tahun lalu. Rencananya lahan yang ditempati HKI ini akan masuk dalam wilayah pembangunan Universitas Islam Internasional. Dengan demikian gedung gereja terancam digusur. Menag RI menyampaikan bahwa surat pengaduan sudah diterima dan sudah dipelajari. Hal tersebut sudah menjadi perhatian Kemenag dan berusaha mencari jalan keluar. “Tentu proses dialog sangat diperlukan untuk mencari jalan keluar bersama,” kata Menag.

Hal lain yang dibicarakan adalah keinginan Menag menghadiri kegiatan-kegiatan umat Kristen termasuk Natal Nasional yang akan diselenggarakan di Sentul pada 28 Desember 2019 nanti, dan meminta PGI menghimbau umat menghadiri Natal tersebut.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut adalah Dirjen Bimas Kristen Thomas Penturi dan Sekretaris Menteri Agama, Khoirul Huda Basyir. Sedangkan dari PGI, selain Gomar Gultom juga didampingi Ari Moningka (Wakil Bendahara); Pdt. Jimmy Sormin (Departemen Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan), Ronald Tapilatu (Biro Papua); Irma Riana Simanjuntak (YAKOMA/HUMAS), Angel Sambow (Sekretariat), dan Markus Saragih. (Sapta/bts)

BACA:  Pesan Natal, Presiden Jokowi Tegaskan Negara Jamin Kebebasan Beragama

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *