Mari Jeli Melihat Post Truth

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Akhir-akhir ini muncul istilah baru, post truth. Dalam bahasa Indonesia agak sulit diterjemahkan secara tepat, tetapi pengertiannya adalah kita dikelilingi oleh berbagai kebohongan. Bahkan orang dengan sengaja menciptakan hoax untuk memutarbalikkan fakta. Hebatnya orang gampang percaya kepada kebohongan bahkan membiarkan diri dipengaruhi olehnya. Kalau tidak salah Göring, salah seorang menteri Hitler pernah mengatakan bahwa kebohongan yang diulang-ulang akhirnya akan menjadi kebenaran. Pada musim Pilpres lalu, yang disebut post truth seakan-akan merupakan sesuatu yang baru. Tetapi benarkah demikian?

Yuval Noah Harari, penulis buku terkenal Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lessons for the 21st Century menegaskan, post truth bukan sesuatu yang baru sama sekali. Bahkan ia (post truth itu) teranyam di dalam eksistensi manusia. Ia malah menegaskan bahwa “homo sapiens” (boleh dibaca, manusia) adalah “species post truth“. Yang ia maksudkan adalah, kekuatan dan kekuasaan manusia sangat tergantung pada penciptaan fiksi-fiksi. Sejak zaman batu katanya, manusia telah menciptakan mithe-mithe untuk mempersatukan manusia dan sekaligus memengaruhinya. Sesungguhnya homo sapiens mampu menaklukkan planet bumi ini (hal yang tidak dapat dilakukan oleh dinosaurus) karena kemampuannya menciptakan dan menyebarkan fiksi-fiksi. Homo sapienslah satu-satunya mamalia yang dapat bekerjasama dengan ” mamalia asing” lain dengan menyebarkan ceritera-ceritera fiksional dan meyakinkan untuk percaya kepada fiksi-fiksi itu. Jadi, kata Harari selama setiap orang percaya kepada fiksi yang sama, maka kita semua akan taat/tunduk kepada hukum-hukum yang sama dan dengan demikian dapat bekerjasama secara efektif.

Sebagaimana kita ketahui, Harari memilah realitas atas: objective reality dan fictional reality. Yang pertama adalah realitas sebagaimana adanya, sedangkan yang kedua adalah realitas yang diciptakan oleh imaginasi manusia. Kalau kepada simpanse (saudara sepupu homo sapiens menurut teori evolusi) diberikan sebuah pisang, ia melihat pisang itu sebagaimana adanya. Ia tidak mampu menggunakan imaginasinya untuk melihat pisang itu diolah sebagai pisang goreng atau kolak. Ini berbeda dengan manusia. Inilah yang disebut fictional reality. Hebatnya justru kita berada dalam kekuasaan fictional reality itu. Kita percaya kepada narasi yang sama bahwa sesudah kehidupan ini ada surga dan naraka kendati belum bisa dibuktikan secara obyektif.

Apa maksudnya penjelasan ini? Pertama-tama kita tidak dapat melepaskan diri dari penciptaan ceritera-ceritera yang memang ditujukan untuk memengaruhi. Ceritera-ceritera itu bisa benar, bisa juga bersifat khayalan. Tetapi tidak dapat diragukan akibatnya sungguh dahsyat. Ketika Bush mengarang ceritera (baca: fiksi) bahwa Saddam Hussain mempunyai senjata kimia, akibatnya adalah Irak hancur berantakan. Hingga sekarang akibatnya masih memengaruhi seluruh dunia ini. Kedua, kendati kita dikelilingi oleh kemungkinan penciptaan kebohongan di mana-mana, tokh kita adalah makhluk yang dikaruniai akal-budi. Kita harus juga mempergunakan akal-budi secara efektif. Memang post truth bukan sesuatu yang baru tetapi jangan dipakai guna melegitimasi segala sesuatu dan memaafkan perbuatan-perbuatan yang menghancurkan peradaban kemanusiaan.

Penulis: Andreas Angguru Yewangoe (Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila)

BACA:  Permenaker No. 11/2019 Seharusnya Mewajibkan Seluruh Perusahaan OS Jadi Anggota Abadi

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *