Lukita Dinarsyah: Batam Sudah Seharusnya Lebih Baik Dari Yang Sekarang

Projustisianews, Batam – Maju sebagai calon pemimpin Kota Batam 2020-2024, bukan sekadar mengejar kursi wali kota Batam. Namun, rasa kecintaannya terhadap Kota Batam membuat Lukita Dinarsyah Tuwo, sanggup melepaskan sejumlah atribut jabatan untuk memaksimalkan pembangunan dengan potensi yang dimiliki Kota Batam.

Kepada Projustisia News, Lukita mengatakan, tak hanya dirinya yang mengingini Batam bisa menyaingi Singapura dan Malaysia, tetapi pemerintah Indonesia sudah sejak dahulu mengingini Batam agar memaksimalkan potensi jalur Selat Malaka dan perairannya. Selain memiliki gugusan pulau terbanyak, Batam berdekatan langsung dengan negara Singapura dan Malaysia. Lokasinya, memiliki hubungan yang kuat dengan pelayaran dan perdagangan di laut untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Katanya: “Batam itu berada di tempat yang strategis. Batam itu bisa menjadi kebanggaan untuk pertumbuhan ekonomi nasional.”

Lukita telah merintis jalan untuk memajukan Kota Batam, pascadirinya menjabat Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Oktober 2017–Januari 2019. Sebelum Kepala BP Batam, jenjang karir Lukita cukup panjang dan berliku. Sebagaimana halnya bangunan megah Taj Mahal yang mendunia, yang tidak dibangun dalam sehari, begitulah adagium Lukita kelahiran Bandung, 25 September 1961. Lulusan Teknik Industri ITB (Institut Teknologi Bandung) Bandung 1985 ini, menghabiskan masa kecilnya, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di Bandung. Kemudian meraih gelar Master Ekonomi dari Vanderbilt University, Nashville, Amerika Serikat pada tahun 1992, dan gelar Doktor Ekonomi pada tahun 1998 dari University of Illinois Urbana Champaign, Amerika Serikat.

Lukita Dinarsyah Tuwo, calon Wali Kota Batam 2020-2024. (Foto: Dok Pribadi)

Kendati berlatar belakang pendidikan teknik, elan berorganisasi yang telah dipupuk Lukita semasa di bangku perkuliahan, tak bisa dipudarkan. Ia pertama sekali bekerja di perusahaan swasta nasional, PT Unilever Indonesia, Jakarta. Setelah satu setengah tahun berkiprah di perusahaan itu, Lukita tertarik pada masalah pembangunan di Indonesia, sehingga ia memutuskan bergabung di Badan Pembangunan Perencanaan Nasional (Bappenas) pada tahun 1987. “Saya berkarir di Bappenas kurang lebih dari 1987 sampai tahun 2014, 27 tahun,” kata Lukita, di Kantor Pemenangan Lukita-Basyid, Legenda Point, Batam, Kepulauan Riau.

Mengetahui talenta politiknya yang mengesankan, pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI periode ke-2 ketika itu), mendorong Lukita untuk mengasah kemampuannya. Lukita berkata: “Puncak karir saya, sebagai wakil menteri pada saat pemerintahan Pak SBY periode kedua, 2010-2014.” Setelah pemerintahan SBY berakhir, ia lantas diminta menjadi Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. “Tiga tahun saya menjadi Sesmen [Sekretaris Menteri],” kata Lukita.

Setelah itu Lukita dipercaya untuk mengepalai BP Batam, tahun 2017. Salah satu tugas yang diterimanya dari Darmin Nasution, Menteri Perekonomian; Lukita harus mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 7 persen. Waktu itu pertumbuhan ekonomi di Batam sekitar 2,6 persen. Kepada Projustisia News, Lukita mengatakan, meskipun ia ditugasi di angka 7 persen, tetapi ia pun memiliki target sendiri untuk pertumbuhan ekonomi Batam waktu itu. Ia menargetkan 4,5 persen di tahun pertama dan 7 persen di tahun kedua. Alhasil, di tahun pertama masa kepemimpinannya, angka pertumbuhan ekonomi di Batam tahun 2018, mengaras 4,9 persen. Mencapai angka 7 persen di tahun kedua, katanya, bukanlah hal yang sulit. Namun, karena pergantian Kepala BP Batam waktu itu, 7 persen belum tercapai.  “Saya memang menargetkan di tahun kedua itu 7 persen,” kata Lukita. Apalagi saat itu, ia didukung oleh tim yang solid yang ikut berkontribusi memperkuat leadership, meng-eksplore dan memaksimalkan potensi yang ada di Kota Batam.

Lukita mengaku, munculnya keinginan untuk memaksimalkan pembangunan di Batam, berdasarkan dari pengalamannya semasa di Kementerian Perekonomian. Hal itu sudah ditunjukkannya semasa menjabat kepala BP Batam. Saat bertugas di Kementerian Perekonomian, Lukita telah menjabat posisi-posisi komisaris atas penugasan pemerintah. Ia mengatakan: “Kalau urusan dunia usaha dan urusan birokrasi itulah yang saya geluti selama ini.”

Perihal Batam, ia sudah sering mendengar nama itu, ketika masih bertugas di Sesmen. Tetapi mengenal Batam lebih dekat, baru setelah Lukita ditugaskan Menteri Perekonomian sebagai kepala BP Batam. “Otomatis saya harus memahami betul kondisi Batam,” katanya. Kesannya selama di Batam, ia melihat potensi yang luar biasa, di mana jika dipadu dengan ide serta konsep yang jelas, kondisi pembangunan di Batam bisa lebih maksimal dan mendunia. Memajukan satu daerah, bukan ditentukan oleh berapa lama tinggal di daerah itu, dan seberapa dalam mengenal daerah itu. “Tetapi niat kita untuk membangun daerah itu,” katanya. Mengenal daerah lebih dalam, katanya, tidaklah cukup, tetapi bagaimana seorang pemimpin dipercaya masyarakat mampu membawa perubahan itu.

Dengan merendah namun tegas, ia mengatakan, jabatan adalah amanah. Oleh karena kecintaannya ke Kota Batam, ia merasa terpanggil untuk memajukan dan memaksimalkan potensi yang ada di Kota Batam. Bagaimana memberikan yang terbaik kepada satu daerah, bijak mengambil keputusan dalam menentukan sebuah perencanaan, itu yang terpenting. “Batam seharusnya sudah harus jauh lebih baik dari yang sekarang,” kata Lukita. Maju daerahnya, mandiri dan sejahtera penduduk Kota Batam, itulah impian Lukita.

Seorang pemimpin yang berpengalaman, lagi bijaksana tahu menawarkan apa yang dibutuhkan oleh masyarakatnya, begitulah falasah Lukita mengungkapkan 10 pemikiran yang akan dilakukan untuk membangun dan menuju Batam Hebat. Batam Berdikari, Batam Sehat, Batam Cerdas, Batam Beriman, Batam Hijau, Batam Melayani, Batam Bekerja, Batam Aman Damai, dan Batam Asyik adalah gerakan yang akan dilakukan Lukita, kelak menjadi wali kota Batam.

“Perubahan untuk Kota Batam,” kata Lukita. Pada hakikatnya, semua orang ingin bahagia dengan parameter yang beda-beda. Ia berbicara soal bekerja. Lukita mengatakan, kondisi yang dihadapi masyarakat sekarang: “Masyarakat sekarang butuh lapangan pekerjaan.” Ia mengharapkan, sektor ekonomi yang tumbuh pesat dan padat modal melalui program Batam Bekerja memiliki keterkaitan yang besar kepada masyarakat Batam. “Kesejahteraan hidup dari sisi materi maupun juga secara spiritual harus bisa terpenuhi,” kata Lukita.

Karena itulah, Lukita menargetkan pertumbuhan ekonomi di Kota Batam sebesar 7 persen melalui 10 program di masa kepemimpinannya nanti. Jika pertumbuhan ekonomi meningkat, maka yang akan menikmati pertumbuhan ekonomi itu adalah masyarakat Batam sendiri. “Kalau kue ekonominya seperti sekarang, bahkan menurun,” kata Lukita, efeknya akan terasa kepada masyarakat. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu, Lukita yakin akan mencapainya melalui 10 gerakan yang saling memperkuat satu antara yang lain.

Dalam konteks Batam Bekerja, Lukita akan mengidentifikasi pelayanan-pelayanan di Kota Batam baik di Pemerintah Kota Batam maupun di BP Batam. Lebih-lebih komitmen tentang pelayanan perizinan, salah satunya dengan mempermudah semua urusan. Pasalnya, dari beberapa keluhan yang diterimanya, pengusaha lokal dan luar negeri menginginkan perizinan di Kota Batam itu mudah, pasti, dan tepat.

Lukita mengatakan: “Ayolah, kita ini harus bersaing dengan daerah-daerah lain bahkan negara lain untuk mengundang investor masuk ke kota Batam.” Menurutnya, investor adalah salah satu syarat adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Kota Batam.

Katanya, jika Batam tidak bisa merubah pelayanannya, dikhawatirkan para pengusaha akan berpindah ke daerah lain. Sebab, sudah banyak investor yang merasa nyaman berinvestasi di luar Batam. Investor merasa nyaman datang ke daerah itu karena mereka dilayani dengan baik. Selain kepastian izin, kepastian dari sisi operasional, daerah itu bisa melaksanakannya. Batam sekarang, bukan hanya dihadapkan pada persaingan dengan luar negeri, tetapi Batam kini bersaing dengan kepala-kepala daerah yang betul-betul mempunyai komitmen untuk memajukan daerahnya dengan cara memperbaiki diri. “Jangan lupa UMK Batam itu sudah cukup tinggi Rp4,1 juta. Ada beberapa daerah yang UMK-nya jauh dibawah Batam dan mereka sekarang memperbaiki. Sehingga beberapa pengusaha di sini, sudah berpikir ke sana,” kata Lukita. Keinginan investor berpindah tempat, kata Lukita, karena kepastian regulasi dan soal biaya di Kota Batam.

Padahal Batam memiliki lokasi yang strategis. Menurut Lukita, bila biaya dikompensasi dengan lokasi yang bagus dan strategis serta kemudahan perizinan, hal itu akan membuat Batam tetap kompetitif. Yang terjadi di Batam saat ini, adalah sudah mahal dan izinnya yang tidak pasti. Hal itu akan menyulitkan investor mau datang ke Batam. Akibatnya pertumbuhan ekonomi akan menurun. “Investor tidak datang. Bahkan yang sudah ada di dalam pergi keluar,” kata Lukita.

Untuk itu, hal pertama yang akan dilakukan Lukita adalah merubah pelayanan pemerintah kepada masyarakat luas dan investor, sehingga mudah, cepat, dan bebas korupsi. Ia bertekad mengajak masyarakat Batam untuk berubah mewujudkan Batam Bahagia Mendunia (BBM). Batam juga harus menjadi Gerbang Maritim di Indonesia bagian barat. Dengan pengalamannya bekerja di Bappenas dan perusahaan di sektor kepelabuhanan, Lukita ingin memaksimalkan potensi Kota Batam sebagai kota maritim.

(Nilawaty Manalu)

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *