Karena Menganiaya Anak, Pengusaha dan Pekerja Pabrik Tahu Terancam 15 Tahun Penjara

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Seorang anak dituduh mencuri HP (handphone), sehingga ia mendapat perlakukan kekerasan, penganiayaan, dan penyiksaan yang mengakibatkannya luka di kepala dan lebam di sekujur tubuhnya. Pelakunya adalah pengusaha dan karyawan Pabrik Tahu di Cipondoh, Tangerang. Kejadian ini dilaporkan oleh pihak keluarga korban kepada Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Senin (11/5/2020).

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan: “Kami telah menerima kabar dan pengaduan dari keluarga korban dan Praktisi Hukum dan pemerhati Anak Kamil Hassan. Laporannya mengenai tindak kekerasan dan kejahatan diikuti dengan penyiksaan oleh Pemilik dan karyawan pabrik Tahu di Tangerang.”

Menurut Arist, para pelaku terjerat hukum merujuk ketentuan UU RI Nomor35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto UU RI Nomor 11 tahun 2014 tentang Sistem Peradilan Tindak Pidana Anak (SPPA). Mereka dapat diancam hukuman 15 tahun penjara.

Setiap anak mempunyai hak fundamental terbebas dari serangan kekerasan, penyiksaan, dan penganiayaan sesuai dengan ketentuan Konvensi PBB tentang Hak Anak dan UU Perlindungan Anak serta KHUPidana.

Dalam kasus tersebut Komnas Perlindungan Anak mendesak Polsek Cipondoh, Tangerang, agar menggunakan hak diskresinya sebagai penegak hukum untuk segera menangkap dan menahan para pelaku. Kasus tersebut dapat dilimpahkan penanganannya ke Unit PPA Polres Tangerang. Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga perlindungan anak diberi tugas dan fungsi untuk melakukan pembelaan dan Perlindungan Anak Indonesia, demi kepentingan terbaik anak.

Tidak ada kata damai atas tindak pidana kekerasan dengan penganiayaan dan penyiksaan terhadap anak yang dilakukan para pelaku.

“Saya sangat kecewa dan tidak bisa menerima tindakan dan perlakuan pengusaha dan karyawan pabrik tahu yang menyiksa anak. Mereka seharusnya menyerahkan kasusnya kepada Polisi kalau terbukti mencuri HP, bukan justru menyiksa anak,” ujar Arist.

“Saya sangat percaya terhadap komitmen Kapolres Tangerang dan Kssatreskrimum dan jajaran penyidiknya. Bagi beliau-beliau sebagai penegak hukum, bahwa kasus pelanggaran hak anak tidak akan ditoleransi,” terang Arist.

Untuk mengawal dan mendampingi kasus penyiksaan terhadap anak ini, Komnas Perlindungan Anak segera membentuk Tim Investigasi dan Advokasi Cepat dan Terpadu bersama LPA Tangerang dan Komisi Kopetensi PWI Pusat, Kamil Hassan sebagai Praktisi hukum dan pemerhati Anak untuk selanjutnya berkordinasi dengan Polres Tangerang. (BTS)

BACA:  Kasus Pembunuhan Nenek Tua 6 Tahun Lalu Tidak Ada Titik Terang

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *