Jika Aku Jadi Nadiem Makarim

Oleh: Jefri Haryono Nainggolan

Sebenarnya saya tidak terlalu peduli siapa pun menteri-menteri yang dipilih Presiden Jokowi dalam periode kedua jabatannya itu. Tapi sebagai anak bangsa, saya juga ingin menuangkan gagasan walau hanya melalui tulisan sederhana ini.

Berawal dari sebuah percakapan ringan dengan seorang teman  yang mengeluhkan betapa sulitnya survive di era sekarang ini jika hanya mengandalkan Izajah pendidikan. “saya bahkan sudah mengantongi izajah S2 bro, tapi sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang cocok dengan kemampuan saya” ujarnya kala itu sembari menyeruput kopi nya.

Terakhir dia mengaku mau tak mau harus mengambil tawaran kerja yang jauh dari basic pendidikannya dan gaji nya juga hanya cukup untuk hidup sehari-hari. “mau membangun rumah-tangga juga rasanya sangat berat bro, padahal umur sudah semakin matang” kata nya sebagaimana keluh-kesah generasi milenial pada umumnya yang mengharapkan kestabilan financial baru memikirkan membangun rumah tangga.

Saya memang tidak berhak menyalahkan dirinya. Ada sebab dan akibat mengapa kejadian seperti ini menjadi sesuatu yang lumrah kita temui di Negara kita ini.

Sulit memang menjelaskan akar masalahnya, dan bisa dibilang rumit bin pelik. saya juga merasa tidak layak untuk membahas hal-hal seperti ini karena tentu para ahli-ahli sudah jauh lebih memahami persoalan ini. Tapi setidaknya kita tidak apatis akan keadaan di sekitar kita.

Jika kita berkaca pada realita, tak heran memang jika pada masa nya rekrutmen Pegawai Negeri Sipil dibuka, kita bisa melihat antusiasme ribuan bahkan jutaan para pelamar bersaing keras agar bisa menjadi salah satu yang lolos. Dan itu diharapkan bisa mengubah nasib dan menjamin kestabilan ekonomi hingga hari tua. Dan itu terjadi selama puluhan tahun sejak Indonesia merdeka.

BACA:  Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan yang Baru dalam Kabinet Indonesia Maju

Cerita kami kemudian berlanjut menjadi agak serius…

“Sejatinya dunia pendidikan kita ini gagal bro” kata dia kemudian. Dan ini menurutku semakin menarik untuk dibicarakan. Kenapa? tanyaku semakin penasaran.

“aku sebenarnya dari kecil sangat suka seni terutama musik” jawab nya dengan mimik serius.

“Tapi lingkungan, sekolah dan keadaan tidak pernah membawaku untuk menemukan apa sebenarnya passion ku dan bagaimana harusnya aku menjalani kehidupanku” tambahnya.

Terbukti memang, dia sangat mahir memainkan alat-alat musik dan vokalnya juga sangat bagus. Hal ini membuatku teringat dengan beberapa teman yang sangat berbakat di beberapa bidang, tapi akhirnya pasrah  dengan tuntutan keadaan harus hidup dari pekerjaan yang bukan passion nya. Bakatnya tidak pernah diasah dan kemudian jadi tumpul. “hidup semengalirnya saja” hidup ini keras” itu kata-kata yang sering kudengar dari mereka.

Lantas kemudian aku teringat dengan kata-kata seorang pakar pendidikan dari Finlandia yang pernah saya baca bahwa dalam persaingan abad 21 ini, pengetahuan yang kita dapat hari ini sudah kuno dalam 18 bulan ke depan. Artinya seorang yang merasa mengetahui/pintar hari ini, jika tidak update dan terus belajar maka hanya kurang dari dua tahun dia sudah tergolong kuno dari segi pengetahuan dan akan ketinggalan kereta kemajuan.

Maka dapat dibayangkan apa hasilnya jika metode pendidikan kita masih mengadopsi era abad 20 an!

Jika melihat lagi hasil Programme for International Student Assessment (PISA) kompetensi generasi bangsa di bidang matematika, reading dan sains berada pada level 0-2 dan dicap bangsa Indonesia baru bisa menghadapi abad 21 setelah 1000 tahun mendatang. (bisa di googling)

Nah singkatnya, generasi bangsa kita ketinggalan 1000 tahun! Aku dan kamu dan adik-adik kita ketinggalan 1000 tahun (ini menurut kajian ilmiah).

BACA:  “Ini Perampokan!”

Lantas apa yang kita harapkan dari seorang Mendikbud baru kita yaitu Nadiem Makarim untuk menjawab permasalahan ini? Sebagai seorang yang termasuk berjasa besar memberikan peluang kerja bagi ratusan ribu anak bangsa, saya termasuk yang mengagumi beliau yang mampu membuat inovasi besar dan mengubah zaman (walau sebenarnya transportasi berbasis online telah ada konsepnya di negara lain seperti Uber yang didirikan setahun lebih awal dari Gojek).

Sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan di Harvard Business School, Nadiem Makarim tentu memahami semangat Silicon Valley, sebuah lokasi di Amerika Serikat yang digadang-gadang menjadi titik pusat inovasi teknologi dan tempat para entrepreneur hebat di muka bumi ini berkumpul.

Lantas apakah karena track record pendidikan dan hasil karya nya membesarkan Gojek sehingga dia dipilih menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan? Terlepas dari semua praduga-praduga itu, kita bisa melihat cita-cita Presiden Jokowi yang ingin memajukan dunia pendidikan dan SDM Indonesia dengan mengikuti perkembangan dunia yang begitu cepat dengan menempatkan seorang anak muda berusia 35 tahun memimpin sebuah Kementrian yang sangat sentral bagi masa depan bangsa ini.

Apakah tidak ada yang lebih baik dari Nadiem Makarim? Tentu banyak! tapi menyikapi semangat zaman, seorang Nadiem diharapkan mampu memproyeksikan kebutuhan zaman dan memberikan gebrakan baru untuk menjawab mau dibawa kemana generasi muda Indonesia ini ke depan.

Walau saya hanya seorang yang awam dalam masalah pendidikan, tapi saya merasakan tidak adanya perkembangan yang berarti di dunia pendidikan kita sehingga hanya mencetak generasi-generasi yang kurang bisa menjawab tantangan zaman yang bergerak sangat cepat.

Sederhana nya, jika saya jadi Nadiem Makarim, saya akan menjadikan dunia pendidikan itu asyik dan menyenangkan. Sekolah berdasarkan minat dan bakat, belajar sambil bermain, dan belajar sambil praktek. Sesederhana itu? Ya! selain menumbuhkan dan mengasah kreativitas, membangun kerangka berpikir kritis, logis juga menjadi bagian paling penting dari proses pendidikan itu.

BACA:  Helen Keller, dalam Kebutaan Dia Melihat Cahaya Sosialisme

Bisa juga variasi antara pendidikan berbasis kurikulum dan pendidikan berbasis bakat. Tapi tugas utama dunia pendidikan adalah memanusiakan manusia dan menjawab tantangan zaman.

Ya, kurang lebihnya begitu!

Sebagai penutup, quote Albert Einstein ini mungkin mewakili apa yang menjadi masalah pendidikan Indonesia saat ini.

“Everybody is a Genius. But If You Judge a Fish by Its Ability to Climb a Tree, It Will Live Its Whole Life Believing that It is Stupid” Albert Einstein (Semua orang adalah jenius. Tetapi jika kamu menilai seekor ikan melalui kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidupnya dia akan mempercayai kalau dia bodoh).

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *