GMBB Memohon Kepada Jokowi Agar Jonathan Sihotang Tidak Dihukum Mati di Malaysia

PROJUSTISIANEWS.ID, JAKARTA — “Pak Jokowi, tolong bantu Jonathan Sihotang agar tidak dihukum mati di Malaysia,” seru Generasi Muda Batak Bersatu (GMBB) di Jakarta, Sabtu (25/7/2020).

Jonathan Sihotang, salah satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia dikenai hukuman mati karena membunuh majikannya. GMBB memohon bantuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar Jonathan Sihotang diberikan keringanan hukuman yang saat ini sedang dihadapinya pada pengadilan tertinggi negara Malaysia.

“Kami ingin agar Bapak Presiden Joko Widodo dapat menggunakan kekuatan diplomatiknya untuk membantu anak bangsa Jonathan Sihotang agar tidak diberikan hukuman mati, melainkan hukuman yang seringan–ringannya,” ujar Ketua Umum GMBB Pdt. Ronny Simbolon, S.Th., S.E.

“Dia (Jonathan Sihotang) sama sekali tidak ada maksud untuk melakukan pembunuhan itu. Dia hanya merasa sakit hati atas perlakuan yang tidak mengenakkan dari majikannya,” sambungnya.

Selaras dengan itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) GMBB Oloan Nadeak, S.H., juga mengatakan bahwa Jonathan Sihotang hanyalah bermaksud untuk meminta upah/gaji sebagai hak mutlak bagi pekerja pada umumnya yang seharusnya dia terima dari majikannya yang setelah sekian lama tidak dibayarkan.

Jonathan Sihotang awalnya menerima haknya yang selama ini diperolehnya dari majikannya yang pertama. Oleh karena majikan yang pertamanya telah meninggal dunia, maka ia digantikanlah dengan majikannya yang sekarang ini (menantu dari majikan yang pertama). Namun setelah setahun belakangan ini dengan majikan yang baru, Jonathan Sihotang tidak diberikan Haknya sebagai pekerja, yaitu selama kurang lebih satu tahun,” imbuh Oloan.

Perusahaan yang dikelola oleh majikannya itu harusnya juga mendapat teguran yang serius. Bagaimana mungkin orang bekerja baru satu tahun dibayar? Bagaimana dengan kehidupan sehari–hari pekerja apabila digaji dalam satu tahun? Mestinya hal ini dapat menjadi pembelajaran bagi perusahaan–perusahaan yang mempekerjakan tenaga Indonesia di luar negeri sana,” lanjutnya.

Sekjen GMBB ini pun paham betul akan dunia ketenagakerjaan mengingat dia dalam kesehariannya bekerja di Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia.

GMBB saat ini memang baru membentuk Organisasi Masyarakat yang mempunyai Visi dan Misi untuk mempersatukan dan menjadikan orang–orang Batak yang bermartabat dan berintelektual ini. Karena itu, GMBB tergerak menyuarakan keinginan orangtua Jonathan Sihotang, yaitu: Asdin Sihotang (58) dan Maslina Nainggolan (60). Mereka memohon agar anaknya tidak dihukum mati oleh Pemerintahan Diraja Malaysia. “Kalau memang anak kami bersalah, hukumlah yang seringan–ringannya karena memang Jonathan tidak berniat melakukan pembunuhan tersebut,”pinta mereka.

Sementara itu, Direktur LBH Dewan Pimpinan Nasional (DPN) GMBB Roberto Sihotang, SH menilai bahwa pembunuhan tersebut dari berbagai sumber informasi, sama sekali tidak ada mencerminkan keinginan dari Jonathan Sihotang membunuh majikannya.

Saya menilai bahwa Jonathan Sihotang bukanlah murni atas keinginannya membunuh majikannya. Ia kalap (begitu emosinya) karena gajinya selama setahun seharusnya dibayarkan majikannya. Namun majikannya tidak memberikan gajinya yang menjadi haknya. Malahan hal yang paling dianggap penghinaan adalah pada saat uang (gaji yang tidak sesuai) tersebut dilemparkan ke muka Jonathan Sihotang,” pungkas Roberto.

Itu (tindakan melemparkan uang ke muka Jonathan Sihotang) adalah suatu penghinaan, menginjak–injak Hak Asasi Manusia maupun harga diri seseorang. Beliau adalah orang Batak, kebetulan beliau satu marga dengan saya, yaitu Marga Sihotang. Kami dididik untuk selalu menghargai siapa saja dan selalu mengedepankan prinsip musyawarah bagi masyarakat Batak, yaitu Dalihan Natolu,” tambahnya.

GMBB menilai bahwa memang benar pembunuhan itu telah dilakukan oleh Jonathan Sihotang (32) terhadap majikannya yang bernama Sia Seok Nee (44) di kilang Toto Food Trading, Kampung Selamat, Tasek Gelugar, 19 Desember 2018 silam. Akan tetapi, GMBB berharap Majelis Hakim pada Pengadilan Tertinggi di Negara Malaysia sana dapat mempertimbangkan alasan–alasan yang meringankan bagi Jonathan Sihotang, sehingga dapat diberikan keringanan hukuman (tidak mendapatkan hukuman mati). Semoga Presiden Joko Widodo dapat mendengarkan aspirasi ini dan dapat menggunakan kekuatan diplomasinya untuk hal ini. (BTS)

BACA:  Polri Telusuri Keterlibatan Anggotanya di Investasi Bodong MeMiles

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *