Gerakan Putih Abu-Abu: Peningkatan Partisipasi Pemilih Pemula Dalam Pilkada Halut

Gerakan Putih Abu-Abu Peningkatan Partisipasi Pemilih Pemula Dalam Pilkada Halut 1

Projustisianews, Halmahera Utara – Alumnus Sekolah Kader Pengawasan Partisipatif (SKPP) Nasional dari Halmahera Utara gelar sebuah Gerakan Putih Abu-Abu bertajuk “Peningkatan Partisipasi Pemilih Pemula Dalam Pilkada Halmahera Utara Tahun 2020”

Dalam hidup berbangsa dan bernegara, kita di wajibkan untuk tetap memegang teguh prinsip demokrasi. Di mana setiap orang berhak memilih dan di pilih sesuai dengan amanat konstitusi berdasarkan pada syarat yang telah di atur.

Pada UUD 1945 pada pasal 22E berisikan terkait dengan asas pemilu dan kepemiluan. Hal yang mengenai ketentuan yang lebih lanjut, telah di atur dalam UU sesuai dengan isi pasal 22E ayat 6.

Dalam pemilu, ada 10 basis pemilih yang akan menjadi tolak ukur berlangsung baik dan tidaknya tingkat partisipatif dalam proses pemilu/pemilihan yang di dalamnya adalah, pemilih pemula.

Pemilih pemula adalah mereka yang memasuki usia memilih dan akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kalinya. Pemilih pemula biasanya masih duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang usianya pada umur 17-21 tahun, dan tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang telah putus sekolah.

Pada tahun 2020 ini, di beberapa kabupaten/kota di Indonesia akan mengadakan pilkada (pemilihan kepala daerah) secara serentak termasuk Halmahera Utara yang ada di propinsi Maluku Utara.

Berdasarkan data BAWASLU Kabupaten Halmahera Utara, pada Pemilihan (PilGub) 2018, indeks partisipatif masyarakat halut pada angka 67,06 % dan kemudian menigkat sampai pada indeks angka 79 % pada Pemilu 2019.

Itu artinya bahwa dalam jelang waktu satu tahun, tingkat partisipatif masyarakat Halmahera Utara meningkat sebanyak 11,94 %.

Baca juga: Urgensi Partisipasi Masyarakat Dalam Pengawasan Partisipatif Dalam Pilkada 2020

Dari tingkat partisipatif yang meningkat di atas, yang menjadi pertanyaan Fundamental adalah, Bagaimana cara agar tinggkat partisipatif masyarakat akan meningkat lagi pada pilkada 2020?

BACA:  JALIN HUBUNGAN KELEMBAGAAN, PEMUDA KATOLIK JABAR APRESIASI KINERJA BAWASLU JABAR

Jawabannya sederhana, dengan jumlah pemilih yang meningkat dipastikan tingkat partisipasi masyarakat juga harus meningkat sesuai dengan bertambahnya jumlah pemilih (pemilih pemula).

Kurang lebih enam hari lagi, proses pungut hitung suara akan dilaksanakan tepatnya di tanggal 9 Desember 2020.

Itu artinya bahwa proses partisipatif pengawasan dari masyarakat melalui gerakan pemilih pemula yaitu Gerakan Putih Abu-Abu yang termanifestasikan dan menjadi tolak ukur dalam peningkatan partisipatif.

Hal ini sesuai dengan amanat Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) bahwa standar kesuksesan tingkat partisipatif Halmahera Utara harus pada presentase 78%.

Amanat ini yang mendorong pihak penyelenggara dan pengawas agar bisa mengkonsolidasi seluruh rakyatnya agar bisa berpartisipasdi dalam pilkada nanti yang bukan hanya sebatas datang ke TPS dan memberikan hak suarahnya.

Tetapi partisipasi dalam proses pilkada adalah turut mengawal mulai dari proses awal sampai pada tahapan pungut hitung hingga pada akhirnya esensi demokrasi lewat asas pemilu (LUBER & JURDIL) bisa tercapai.

Gerakan Putih Abu-Abu adalah sebuah konsep gerakan yang dilakukan oleh Alumni SKPP Halmahera utara dalam menumbuh kembangkan tingkat partisipatif pemilih pemula dari sektor pendidikan formal (siswa/i SMA).

Karena dalam lingkup pendidikan formal kita bisa mengedukasi siswa-siswi agar menjadi aktor pembaharu paradigma masyarakat yang praktis (ruang keluarga).

Di balik itu juga, lewat pendidikan formal proses tranformasi akan efektif karena di dukung oleh tenaga pengajar sebagai mesin pengerak gerakan kawal pilkada.

Dalam konteks pilkada kali ini, Halmahera utara berada pada kostalasi politik konvensional modern.

Yang artinya bahwa praktek politik praktis lama di desain dalam model politik modern dengan memanfaatkan fasilitas teknologi modern (media sosial).

Pada dinamika inilah pemilih pemula yang merupakan dari siswa/i SMA Kristen Nehemia yang merupakan bagian dari produk modern (milenial) yang akan berperan penting dalam proses pengawalan demokrasi sesuai dengan asas pemilu.

BACA:  Kita Semua Bersaudara, 11 LSM se-Kepri Galang Bantuan

Ada beberapa poin penting yang menjadi sasaran edukasi kegiatan partisipatif di antaranya adalah :

  • Tolak Politik Uang
  • Bahaya Hoax dan
  • Kawal keluarga menjadi pemilih rasional

Dari ketiga poin di atas, merupakan titik fundamental yang akan menjadi output pendidikan yang di lakukan dalam Gerakan Putih Abu-Abu.

Guru SMA Kristen Nehemia, Defderius Panudu menyampaikan apresiasinya pada gerakan ini.”Siap besama dengan siswa/i SMA Kristen Nehemia untuk mengawal proses pilkada yang baik. Selain itu juga, saya juga berharap agar terus terjalin mitra kerja antara SKPP dengan Yayasan SMA Kristen Nehemia sebagai wadah pengkaderan partisipatif” kata Defderius.

Sementara, inisiator Gerakan Putih Abu-Abu sekaligus Alumni SKPP Nasional mewakili Maluku Utara, Robinsors H Balamau memaparkan bahwa “Gerakan ini merupakan gerakan pendidikan politik kepada generasi muda yang ingin berjuang mencapai demokrasi yang sejati” tanda Robin.

Karena pada prinsipnya, lanjut Robin, demokrasi hari ini telah jauh keluar dari koridor demokrasi yang sesungguhnya. Di mana praktek money politic masih subur saat pemilu/pemilihan, sistem oligarki masih tetap manjadi praktek pemimpin hari ini.

“Olehnya itu, gerakan ini akan menjadi garda terdepan dalam mengawal demokrasi indonesia, dan khususnya untuk pilkada Halmahera Utara pada 9 Desember nanti” tutupnya.

Gerakan ini merupakan gerakan perdana yang dilakukan oleh Alumnus SKPP Halmahera Utara dalam ruang formal dan di lakukan di suatu lembaga pendidikan yayasan di Desa Duma, Kecamatan Galela Barat tepatnya di SMA KRISTEN NEHEMIA. [BTS]

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *