Gay Itu Akhirnya Dipecat

PROJUSTISIANEWS.ID — Dulu aku pernah bekerja di satu perusahaan dan berhadapan dengan satu kasus yang cukup menegangkan. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja aku harus berhadapan dengan peristiwa yang sebelumnya aku hanya baca di media massa. Tetapi kali ini nyata di depan mata.

Kisahnya begini…
Aku terkejut ketika seorang anak muda mendatangiku dengan wajah gusar, takut dan marah. Aku bertanya, ada apa? Kebetulan memang aku mengenalnya. Dia bercerita kalau baru saja dia mengalami pelecehan seksual dari sesama jenis di toilet kantor. Pastinya aku kaget luarbiasa bercampur marah. Dia menceritakan kronologi peristiwa menjijikkan yang dialaminya. Ketika dia berada di toilet sendiri, tiba-tiba masuk seorang staff yang sudah dikenalnya sebagai seorang yang sangat ramah menghampirinya dan secepat kilat melecehkannya. Akhirnya, dalam percakapan kami yang singkat kami putuskan akan melaporkan pria gay itu.

Ketika dia menyebutkan nama pria gay dan menjelaskan ciri-cirinya akupun membayangkan wajah seseorang kira-kira sebagai pelakunya. Meski satu perusahaan tentu saja aku tidak tahu dan kenal semua nama, akhirnya aku putuskan untuk menyelidiki besok harinya langsung ke unit di mana pria gay itu bekerja karena pada waktu itu tugasku cukup banyak.

Ketika berada di lif aku bertemu dengan pria yang sudah aku kenal tapi tidak tahu namanya. Kami ngobrol basa basi hingga lif nya tiba di lantai yang aku tuju. Kami berpisah dan aku langsung menemui satpam sekalian menanyakan nama yang disebutkan anak muda itu. Aku kaget ketika aku bertanya kepada satpam dengan menyebutkan nama, satpam langsung bilang “yang tadi dengan ibu di lift itu orangnya”….ternyata tidak dia bukan orang yang aku bayangkan sebelumnya.

Aku melanjutkan penyelidikanku, bertemu dengan seseorang di unitnya. Aku ajak ngobrol stafnya hingga sampai aku menanyakan pria gay bernama D. Aku cerita sedikit tentang kejadiannya. Jawabannya membuat aku kaget, bahwa sebenarnya sudah pernah tercium gelagat tidak baik pria gay ini terhadap seorang cleaning service yang diberikannya pinjaman uang. Dia minta si cleaning ke rumahnya, seperti yang dilaporkan si cleaning service awalnya dia mengajak ngobrol, selanjutnya dia mengajak menonton video porno dan selanjutnya diapun melecehkan si cleaning service.

Aku tanya bagaimana kisah selanjutnya, kok dia masih tidak dipecat? Ternyata si cleaning service justru yang dipecat karena pada waktu itu dia dituduh mencuri. Peristiwa pelecehan yang dialaminya tertutup, karena dia “mencuri” dia pun menelan sendiri traumanya.

Si pria gay ini sudah hampir belasan tahun bekerja di perusahaan itu entah sudah berapa korbannya. Ini membuat kemarahanku meluap dan semakin berniat untuk melaporkan dia dan menendang dia jauh dari perusahaan itu. Tapi aku ragu pada waktu itu, berdasarkan pengalamanku tidak banyak pemimpin di level bawah yang bisa diharapkan untuk menyelesaikan dengan cepat kasus seperti ini. Kebanyakan pemimpin suka cari aman, pengecut, tidak mau repot, dan yang miris banyak yang tidak peduli. Aku pikir ini masalah waktu juga, kuputuskan langsung ke pimpinan paling atas saja.

Persoalan muncul korban tidak mau melaporkan. Kadung sudah tahu, aku ancam dia kalau tidak mau lapor aku yang akan melaporkan dan dia pun pasti tetap akan terseret. Akhirnya dia patuh dan aku minta dia menuliskan peristiwa yang dialaminya. Puas dengan kesaksian tertulisnya, aku lanjutkan dengan membuat kata pengantar selanjutnya kami email ke pimpinan.

Tidak pakai lama, jawaban dari pimpinan segera muncul dan sedikit agak heboh karena pimpinan beberapa unit kayak kebakaran jenggot. Aku tidak peduli sama sekali. Aku sampaikan alasanku tidak melapor kepada mereka. Dan hanya satu alasanku aku tidak percaya dengan kerja mereka. Kasus cleaning service membuatku marah. Kok bisa tidak ditindaklanjuti kasusnya? Jelas, korban berikutnya ada karena si pria gay masih aman tidak diproses.

Singkat cerita support teman-teman membuat anak muda itu menjadi lebih berani. Pada waktu dia diperhadapkan dengan si pria gay di depan pimpinan dengan berani dia mengungkapkan pengalamannya dan pria gay itu tetap berusaha membela dirinya. Tapi akhirnya sidang tertutup itu memutuskan si pria gay itupun diputuskan untuk dipecat.

Hatiku pasti senang, setidaknya monster itu tidak berada lagi di tempat di mana aku bekerja. Jadi dia tidak bisa menularkan penyakit alias kelainannya kepada yang lain. Hanya aku juga khawatir di tempat lain diapun akan tetap mencari korbannya.

Pesan moralnya:

Tidak sedikit pemimpin sebagai biang kerok masalah. Ketidakmampuan pemimpin mengidentifikasi masalah karena tidak punya telinga dan waktu untuk mendengar, ditambah dengan ketidakpedulian karena sistem nilainya yang tidak jelas, bisa menjadi perusak utama dari sebuah perusahaan. Sebaliknya, pemimpin yang memiliki sistem nilai yang jelas dan berkomitmen akan menyelesaikan masalah dengan cepat tanpa menunda, menjadi sosok yang dibutuhkan perusahaan.

BSD, 6 Agustus 2019

Penulis: Rose Emmaria Tarigan (sebagaimana yang ia tulis di Akun Facebooknya sendiri)

BACA:  Jika Aku Jadi Nadiem Makarim

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *