GAMKI TOBA Menolak Keras Relokasi Regal Spring Indonesia di Kecamatan Porsea dan Uluan

BALIGE, PROJUSTISIANEWS.ID — Ada rencana PT. Aquafarm Nusantara yang kini telah berganti nama menjadi Regal Spring Indonesia itu akan direlokasi ke Porsea dan Uluan. Hal itu disampaikan oleh Kasan Mulyono sebagai External Affairs Senior Manager RSI dalam konperensi pers yang disampaikan di Medan, Minggu (17/5/2020) yang lalu. Menyikapi hal tersebut, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Toba menyatakan sikap mengenai dampak apabila RSI tersebut benar akan direlokasi ke Porsea dan Uluan.

Kawasan Danau Toba adalah salah satu Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN) yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Untuk mengembangkan pariwisata di seputaran Danau Toba tersebut pemerintah pusat akan menggelontorkan dana sekitar 3,5 Triliun.

Porsea dan Uluan adalah salah satu kawasan wisata yang ada di Danau Toba dan persisnya berada di Kabupaten Toba. Beberapa obyek wisata yang ada di Porsea yang kini telah dibangun dan dilengkapi fasilitas oleh Pemkab Toba di antaranya Pantai Pasir Putih Parparean dan Pantai Pasifik, sedangkan di Uluan adalah Pantai Janji Matogu dan Aek Rangat Siregar, Aek Na Las. Objyek wisata tersebut sudah ramai dikunjungi oleh wisatawan apalagi pada hari libur karena pantainya sangat landai sehingga nyaman berenang.

Masyarakat sekitar Porsea dan Uluan juga memanfaatkan air Danau Toba untuk keperluan rumah tangga dan pertanian. Beberapa nelayan juga sering menangkap ikan dengan menggunakan peralatan sederhana dan selalu menjaga kelestarian danau tersebut.

Apabila RSI akan direlokasi ke Porsea dan Uluan maka akan mengganggu segala aktivitas yang selama ini sudah berjalan baik. Kami dari GAMKI Toba menghimbau Pemkab Toba agar tidak memberi ijin kepada RSI untuk direlokasi. Tidak ada alasan yang membenarkan harus dipindah ke Porsea dan Uluan, malah seharusnya RSI yang beroperasi di seluruh kawasan Danau Toba juga harus segera ditutup karena sudah melakukan pencemaran terhadap Danau Toba. Beberapa waktu lalu ribuan ikan mati di Danau Toba dan ada juga ditemukan bangkai ikan dalam karung yang ditenggelamkan ke dasar danau. Para akademisi dari beberapa universitas sudah melakukan penelitian terhadap kualitas air Danau Toba dan hasilnya air Danau Toba sudah tercemar parah.

Pemkab Toba harusnya serius dan konsisten terhadap pengembangan Pariwisata Danau Toba agar sejalan dengan program pemerintah pusat. Karena akan sangat bertolak belakang jika pariwisata Danau Toba dikembangkan, tetapi di sisi lain tetap memberi ijin kepada perusahaan untuk membuka Keramba Jaring Apung (KJA) di sekitar Danau Toba. Karena itu kami GAMKI Toba dengan tegas menolak relokasi RSI tersebut.

Kehadiran RSI di Ajibata (Toba) juga tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, malah masyarakat terganggu dengan operasional truk-truk mereka yang lewat tiap hari di jalan Parapat-Ajibata. Jalan jadi rusak sementara kontribusi perusahaan untuk perbaikan jalan hampir tidak ada, makanya beberapa waktu lalu masyarakat setempat memblokade jalan tersebut.

Beberapa waktu yang lalu saat kunjungan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan berkunjung ke kawasan Danau Toba sudah mendesak dan memerintahkan agar PT. Aquafarm Nusantara segera angkat kaki, harus segera dikosongkan tidak bagus untuk pariwisata katanya. GAMKI Toba sangat menyetujui rencana tersebut karena Danau Toba adalah salah satu danau vulkanik terindah yang dimiliki Indonesia bahkan dunia sehingga harus dijaga kelestariannya. (ASM)

BACA:  Pasokan Elpiji 3 Kg Tersedia Hingga Desember 2020 di Batam

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *