Eksekusi Lahan Milik STT BMW Janggal dan Diduga Ada Rekayasa

AMBON, PROJUSTISIANEWS.ID — Pelaksanaan eksekusi terhadap sebidang tanah milik SekolahTinggi Theologia Bina Muda Wirawan (BMW) yang berada dikawasan dusun Batu Gong desa Passo terkesan janggal dan diduga penuh rekayasa.

Pasalnya eksekusi yang dilakukan juru sita Pengadilan Negeri Ambon berdasarkan penetapan ketua pengadilan negeri Ambon, Pasti Tarigan. Dilakukan tanpa adanya batas batas objek yang dieksekusi.

Wartawan media ini yang ada di lokasi eksekusi Senin (27/1/2020) mendapati kenyataan, eksekusi dilakukan sekitar pukul 12.00 wit. Saat membaca surat penetapan ketua pengadilan negeri Ambon, jelas disebutkan bahwa eksekusi akan dilakukab pada objek A dan objek B, tanpa menyebutkan letak objek objek tersebut.

Bahkan fatalnya lagi, dalam surat penetapan eksekusi yang dibacakan juru sita, hanya disebutkan bahwa eksekusi dilakukan berdasarkan batas batas yang ada pada Gambar Situasi (GS) nomor 278 tahun 1994 milik Polo Setiawan atau Polo Mas. Namun ternyata dalam GS tersebut tidak ada dicantumkan batas batas terhadap objek yang dimaksud.

Dan ketika hal tersebut ditanyakan pihak termohon kepada juru sita, dan meminta juru sita untuk menunjukan batas batas yang ada pada GS sebagaimana yang tertuang dalam surat penetapan ketua pengadilan negeri Ambon tersebut, ke empat juru sita Pengadilan negeri Ambon tidak mampu menunjukan batas batasnya, bahkan ke empatnya terus menghindar ketika dimintai menunjukan batas batas tanah oleh pihak termohon.

Wartawan media ini juga coba bertanya kepada Jidon Batmomolin selaku kuasa hukum pemohon tentang batas batas yang ada pada GS. Batmomolin sendiri tidak berani menunjukan batas batas tersebut.

Parahnya lagi sesuai GS luas tanah milik Polo Setiawan atau Polo Mas seluas 11.000 lebih meter persegi. Namun lahan milik STT BMW yang dieksekusi karena diakui milik Polo Mas adalah seluas 13.000 meter persegi.

Walaupun mengetahui bahwa eksekusi yang dilakukan mereka tanpa adanya batas batas yang jelas. Akan tetapi pihak pengadilan negeri Ambon lewat juru sitanya tetap melakukan eksekusi. Eksekusi “gelap” tanpa bukti akuratnya diduga terjadi lantaran adanya persengkongkolan antara pihak Pengadilan Negeri Ambon dan Polo Setiawan selaku pemohon eksekusi.

Penetapan eksekusi tanpa batas jelas ini berbuntut dengan dilaporkannya ketua Pengadilan Negeri Ambon Pasti Tarigan dan juru sita, La Jamal ke Badan Pengawas Mahkamah Agung dan Ombusdmen. (tribun-maluku.com)

BACA:  Penyidik KLHK Menyegel Tempat Pembuangan Sampah Ilegal di Kabupaten Bogor

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *