Dirjen Bimas Katolik Buka Seminar Pemuda Katolik DKI Jakarta 2020

PROJUSTISIANEWS.ID, JAKARTA — “Radikalisme bisa muncul di mana saja dan dari agama mana saja termasuk dari agama kita sendiri. Karena itu, penting bagaimana kita mampu berperan dalam membangun peradaban bangsa dan dalam hal ini pentingnya kita membangun penguatan moderasi beragama” kata Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI Yohanes Bayu Samodro. Dirjen (Direktur Jenderal) membuka Seminar dan Kursus Kepemimpinan Dasar (KKD) Pemuda Katolik DKI Jakarta Tahun 2020 yang bertema “Peran Pemuda Katolik dalam Membumikan Moderasi Beragama“ di Aula Jayakarta, Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Minggu (6/9/2020).

“Populasi jumlah Umat Katolik itu tidak banyak karena tidak sampai 5%. Bukan persoalan minoritasnya melainkan bagaimana kita yang secara minoritas ini bertingkah laku dan bersikap secara kreatif dan bermakna bagi bangsa” imbuh Bayu, panggilan akrab Yohanes Bayu Samodro.

Selain membuka acara tersebut, Bayu juga berkesempatan menjadi pembicara utama dan menyampaikan beberapa pokok gagasan penting untuk dapat dijadikan pemahaman bersama para peserta terkait dengan konsepsi Moderasi Beragama yang ditawarkan oleh Kementerian Agama untuk memguatkan komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan yang paripurna.

Kementerian Agama juga telah memasukkan adanya penguatan Moderasi Beragama sebagai salah satu isu besar yang tertuang dalam RPJMN 2020–2024 dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari strategi kebudayaan dalam memajukan sumber daya manusia Indonesia.

Bayu memberikan apresiasi kepada Pemuda Katolik yang sedang memusatkan perhatian pada nasib bangsa yang majemuk melalui kaderisasi yang berkelanjutan dan secara cerdas mengambil tema Moderasi Beragama. Pemuda Katolik saat ini diibaratkan sebagai orang muda sedang membangun peradaban bangsa dengan batu–batu semangat yang niscaya akan terangkai menjadi tembok menara kebangsaan yang kokoh.

Menurut Bayu, Moderasi Beragama masih abstrak dan masih pada tataran wacana dan sudah barang tentu musti dibumikan secara nyata. Meski demikian subtansi Moderasi Beragama tidak lain menjaga kebersamaan dengan sikap tenggang rasa sedangkan sikap tenggang rasa itu sendiri merupakan warisan leluhur nenek moyang kita untuk saling memahami dan ikut merasakan satu sama lain yang berbeda. Artinya Indonesia memiliki landasan dan modal kultural untuk mengembangkan gagasan Moderasi Beragama.

Bayu tidak memungkiri agama memang bisa menjadi sajian makanan yang dapat digoreng sana sini dan mampu menjadi semangat tersendiri namun terkadang semangat itu dapat menjadi hal yang negatif untuk menjatuhkan orang lain ditambah lagi dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi yang serba digital dan adanya media sosial yang kerap mengganggu benteng kebersamaan dan tenun kebangsaan maka dari itu Bayu berharap supaya Pemuda Katolik dengan spirit mudanya bergerak secara inklusif terlibat dalam penguatan Moderasi Beragama bersama dengan pihak – pihak yang lain yang tidak cukup sebagai gerakan struktural melainkan juga gerakan kultural masyarakat.

Bayu juga menyampaikan empat gagasan Bimas Katolik ini ke depan adalah pertama, terkait penyederhanaan layanan birokrasi sampai ke daerah. Kedua, penyadaran pola pikir masyarakat dalam memaknai keberagamaan di mana agama bukan sebagai tujuan. Ketiga, terkait dengan katekese kebangsaan secara online dengan maksud kita harus berdamai dengan maju dan pesatnya teknologi informasi dan nilai–nilai keagamaan tidak cukup hanya disampaikan dalam mimbar–mimbar gereja, tetapi bagaimana diharapkan mampu menjangkau generasi milenial yang lekat dengan teknologi digital. Keempat, pembelajaran agama Katolik sebagai katekese kontekstual dan holistik.

Terkait dengan isu sertifikasi penceramah yang beredar di media, Bayu menjelaskan secara gamblang bahwa yang dimaksudkan oleh Menteri Agama Fachrul Razi itu sebenarnya lebih pada standarisasi bukan pada sertifikasinya. Kata yang paling pas adalah penceramah yang bersertifikat untuk mencegah masuknya kandungan ceramah yang bertentangan dengan nilai–nilai Pancasila.

Sambungnya, Dirjen Bimas dan pejabat eselon 1 lainnya di dalam Kementerian Agama memiliki tanggung jawab struktural menjalankan setiap kebijakan Kementerian Agama.

Mengenai hal yang ditanyakan tentang Sertifikasi Penceramah Agama, saya kira ini perlu diluruskan bahwa Menteri Agama tidak pernah meluncurkan program Sertifikasi.
Maksud baik Kementerian Agama pada dasarnya adalah bermaksud memberikan pengayaan materi wawasan kebangsaan bagi para penceramah agama.

Pembimas Katolik Kanwil Kemenag DKI Jakarta Salman Habeahan dalam sambutannya menaruh harapan sekaligus bangga kepada Pemuda Katolik yang saat ini terus melanjutkan kaderisasi untuk orang muda Katolik. Salman menilai acara ini sebagai langkah awal yang baik dimulai dari kader – kader muda dan perlu mendapatkan dukungan terutama dari kalangan Gereja Katolik baik hirarki atau pun para awam.

Ketua Pemuda Katolik Komda DKI Jakarta Bondan Wicaksono menerangkan latar belakang acara seminar dimana kemajemukan tersebut memang tak bisa dipungkiri mengandung potensi–potensi konflik. Perlu disikapi dan dipersiapkan langkah–langkah maju terutama melakukan upaya preventif atau pencegahan sebelum terjadinya konflik. Maka penting dan perlu mendorong penguatan kerukunan antar umat beragama.

“Untuk itu, Pemuda Katolik mendorong adanya penguatan Moderasi Beragama sebagai hak strategis dalam memajukan sumber daya manusia Indonesia” imbuh Bondan.

Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro Didampingi Pebimas Katolik DKI Jakarta Salman Habeahan dan Ketua Pemuda Katolik DKI Bondan Wicaksono.

Bondan mengucapkan terima kasih atas kehadiran Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro yang berkenan membuka dan memberikan pemahaman bagaimana sesungguhnya konsepsi Moderasi Beragama sebagai upaya penguatan nilai–nilai inklusif dan toleransi secara khusus bagi Pemuda Katolik dan masyarakat pada umumnya. Tak lupa Bondan memberikan apresiasi kepada Bimas Katolik Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta atas dukungan dan kerjasamanya.

Seminar ini pun menghadirkan narasumber yang lain diantaranya Pembimas Katolik Kanwil Kemenag DKI Jakarta Salman Habeahan yang berbicara tentang mengelola kemajemukan dari perspektif Moderasi Beragama, Pastor Moderator Pemuda Katolik DKI Jakarta Rm. Adrianus Suyadi, SJ yang menjelaskan tentang Moderasi Beragama dari perspektif Gereja Katolik dan Dewan Pakar Pemuda Katolik DKI Jakarta Stefanus Asat Gusma yang menegaskan tentang peranan kepemimpinan Pemuda dalam membumikan Moderasi Beragama.

Acara seminar yang diselenggarakan atas kerjasama Pemuda Katolik Komda DKI Jakarta dengan Bimas Katolik Kanwil DKI Jakarta ini berjalan dengan lancar dari pagi hingga sore dengan tetap menerapkan protokol kesehatan diantaranya pemeriksaan suhu tubuh, menggunakan masker dan menjaga jarak satu sama lain. Di penghujung seminar ditutup dengan Misa Perutusan yang dipimpin oleh Rm. Adrianus Suyadi, SJ. (Liberty)

BACA:  Menko Luhut: Jepang dan Amerika Serikat Akan Investasi di Natuna

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *