Dilema Mengatasi Monyet Liar

PROJUSTISIANEWS.ID, SIPIROK — Bodat atau monyet, binatang yang dekat dengan manusia. Kadang simbiose mutualistis, monyet bisa diajari memanjat kelapa dan memetiknya. Sebaliknya, monyet bisa jadi musuh ketika mereka tidak dalam penguasaan manusia. Mereka seakan raja di wilayahnya. Semua tanaman menjadi miliknya, termasuk tanaman masyarakat. Penampakan mereka juga luar biasa jahatnya. Monyet bisa tidak takut malah melawan manusia itu sendiri, sehingga kadang kalau hanya seorang ibu di ladang berhadapan dengan monyet, maka tampillah rajanya monyet memimpin kawannya melawan petani.

Itu satu daftar teratas mengikuti hama babi. Saudara kita Herman Harahap menyampaikannya dalam diskusi topik kedua di forum petani Sipirok ini, Sabtu (3/10/2020). Selintas saya berikan solusi alternatif, melapor Bupati, buat perangkap seng dan tangkap satu lalu dilukai berdarah-darah. Pasti gerombolannya akan takut menjauh.

Lantas apa yang terjadi sebenarnya? Apa perlu bunuh-membunuh monyet karena mengancam kehidupan manusia?

Berikut sedikit kajian saya. Makhluk hidup, semuanya diciptakan Tuhan dan sesuai ciri dan kemampuannya diatur oleh Tuhan. Manusia punya kelebihan ketimbang ciptaan lainnya seperti binatang. Kita punya akal budi, binatang tidak, tetapi ada yang bisa kerjasama.

Masalahnya karena ulah manusia pula. Tempat mereka dirambah oleh manusia dengan segala alasan rasional, ijin resmi atau pembalakan liar. Akhirnya tambah sempit. Hutan di Batang Toru, konon penyebabnya, terganggu. Akhirnya binatang seperti monyet, hijrah ke berbagai tempat sampai jauh. Nah, sisi ini jelas, penyebabnya manusia juga.

Jika mereka cari makan, di area baru, salahkah? Tentu tidak, sebab binatang juga butuh makan. Cara cari makannya pun tidak menanam, tetapi tahunya memetik saja, sebab itulah dunianya. Dia tidak tahu milik siapa? Jenis apa? Asal ada, ambil. Sisi kebinatangan. Jangan salahkan mereka.

Faktanya, dalam daftar perlindungan undang-undang, monyet ada di dalamnya. Kita pusing jadinya? Di tembak salah, malah kita bisa kena pasal pidana. Tidak ditembak, kita repot menjaga 24 jam sejak ditanam sampai panen. Aduh, beratnya hidup ini ya. Lalu bagaimana kita melihat fenomena ini?

Hemat saya, Pemerintah Daerah dan Lembaga Keumatan, seperti Raja Adat, yang katanya mewakili kepentingan rakyat, masyarakat, harus mau turun tangan mengatasinya. Bagaimana caranya monyet tidak dimusnahkan, tetapi rakyat tidak terganggu?

Manusia melalui kewenangan yang diberikan “harusnya” mampu mengatasinya. Kalau tidak mampu, ada yang kurang beres dalam tatanan kehidupan kita dalam skala pemerintahan daerah. Sebab, pemerintah punya aparat, ada instansi yang bertanggung jawab soal eksistensi binatang yang dilindungi UU seperti Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Mereka bertanggung jawab juga. Jangan mendiamkannya!

Bicara Undang-Undang, masyarakat petani juga diatur, yaitu kebebasan untuk hidup merdeka, bebas, tanpa diganggu orang lain. UU Ketenaga Kerjaan, juga Negara menjamin pekerjaan Warga Negara Indonesia. Oleh karena dua pihak dijamin UU, maka perlu aturan daerah semacam Perda dibuat untuk menjamin semuanya berjalan dengan harmoni. Jikalau tidak harmoni, petani jangan sampai kelaparan, miskin dan tidak makan.

Jika soal perut, manusia juga bisa menjadi kalap. Siapa yang kuat antara manusia dan monyet ini? Oleh karena itu, saya berharap Pemda turun tangan. “Jangan berita ini seperti layang-layang putus,” kata Herman Harahap dalam harian di Tapanuli Selatan. Gerakkan ormas, lembaga adat, komunitas Perbakin untuk hama babi, mungkin monyet bisa ditangkap hidup-hidup, dipelihara di kebun binatang dan sebagainya.

Mengulangi solusi, selain dijaga ketat ada dua yang pernah saya sampaikan:

Pertama, tangkap hidup-hidup. Monyet itu dilukai sampai berdarah, lepas lagi, maka gerombolannya dipastikan tidak akan datang lagi selamanya sebab mereka akan takut.

Kedua, bentuk lingkaran seng ukuran tinggi 1,5 m di sebelah pohon. Lalu rantingnya buat menjulur ke atas lingkaran itu dan taruh pisang di dalamnya. Mereka akan melompat. Setelah makan pisang itu, mereka tidak bisa keluar lagi. Selanjutnya, amankan monyet itu dan serahkan ke BKAH Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Demikian dulu, diskusi kita sebagai pemantik saja. Kali ini terkait dengan hama monyet ini.

Salam Petani Sipirok, Jaya selalu dengan semangat untuk maju.

Penulis: Ronsen Pasaribu

BACA:  KPU Menetapkan Jokowi-Ma'ruf Sebagai Presiden dan Wakil Presiden Periode 2019-2024

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *