Di Usia ke-3 Geomaritim Berbagi Kasih Dengan Warga Kampung Tua Tiangwangkang

Projustisianews, Batam – Selasa, 20 Oktober 2020, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Geomaritim, baru saja menginjak usianya yang ketiga tahun. Sebagai bentuk ucapan syukur, DPD Geomaritim Kepulauan Riau (Kepri) melakukan kunjungan ke salah satu perkampungan tua di Kota Batam. Tepatnya, di kampung tua Tiangwangkang, Kelurahan Tembesi, Sagulung, Batam, Kepri. Di sela memperingati hari jadi DPP Pusat tersebut, DPD Geomaritim Kepri yang baru berdiri satu tahun itu, turut menyemarakkan hari jadi DPP Geomaritim Pusat dengan melakukan kegiatan yang mengamanahkan semangat kebersamaan, kepedulian dengan berbagi kasih. Hal itu ditunjukkan melalui aksi sosial dengan semangat: Tiga Tahun Bersama Laut Nusantara bersama warga Tiangwangkang. Dedikasi itu ditunjukkan serombongan Geomaritim dengan membagi-bagikan masker ke rumah-rumah warga Tiangwangkang.

Hari itu, Amos, Ketua RT Tiangwangkang, menjamu rombongan Geomaritim, tepat pukul 9.00 wib, di rumahnya. Persis di samping tembok yang menjorok ke laut, pelabuhan kecil yang menghubungkan Batam dengan pulau-pulau sekitarnya, Amos, duduk bersama beberapa warga Tiangwangkang berdiskusi dengan Geomaritim. Ia bercerita, penduduk di kampung itu menggantungkan nasibnya dari sumber daya alam kelautan, sebagai nelayan.

Petra Tarigan, Ketua DPD Geomaritim Kepri dan Sukenty Parapat, sekretaris sedang membagikan masker ke rumah-rumah warga. (Foto: Nilawaty Manalu)

Kepada, Petra Tarigan, Ketua DPD Geomaritim Kepri, Amos mengatakan, bertambahnya pembangunan di sekitar lautan kampung tua itu, telah memengaruhi hasil tangkapan nelayan di sana. “Ikan tak banyak lagi,” kata Amos. Ketika hasil laut tidak seberapa, warga setempat menyiasati pendapatannya dengan usaha lain guna menopang hidup keluarganya. Sebagai pembuat arang berbahan kayu bakau, menjajakan makanan, dan pramusaji restoran. Di kampung tua itu, kebetulan berdiri beberapa restoran apung.

“Rumpon laut itu sudah lama diminta Pak?” kata Petra kepada Amos. Petra mempertanyakan itu, mengingat rumpon tujuannya untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul di sekitar rumpon, sehingga ikan-ikan akan lebih mudah untuk ditangkap para nelayan. Menurut Amos, mereka sudah pernah mengajukan hal itu kepada pemerintah kota Batam. Tetapi rumpon tersebut, adanya di dinas provinsi.

Kemunculan usaha-usaha kuliner di kampung itu, karena Tiangwangkang sering dikunjungi wisatawan domestik dan asing. Memang, topografi kampung itu beralam indah dan menarik. Tetapi sejak pandemi covid-19 mewabah, warga pun merasakan dampak perekonomiannya. Padahal mereka menargetkan pengunjung tahun ini bisa mencapai 3000 orang. “Tahun lalu, jumlah pengunjung ke kampung kita ini sampai 1900 orang,” kata Amos.

Keinginan masyarakat untuk menjadikan kampung tua sebagai destinasi pariwisata, lahir dari inisiatif dan aspirasi masyarakat sendiri. Menurut Amos, ada beberapa alasan yang membuat kampung tua Tiangwangkang menjadi tujuan pariwisata, karena hasil laut tidak menjanjikan lagi dan warga tidak memiliki keahlian lain seperti berbudi daya tanaman.

Ditanya sejauh mana kesiapan warga untuk mewujudkan itu, Amos mengatakan, saat ini mereka hanya bisa ikut andil menjaga kenyamanan dan kerukunan kampung tua. Dengan hadirnya restoran di kampung itu, masyarakat diberdayakan sebagai jasa pengamanan, dan pekerja. Sebagai daerah potensi wisata, Amos mengaku, perkampungan itu luput dari perhatian pemerintah kota Batam. “Kita tidak pernah mendapat bantuan dari dinas pariwisata,” kata Amos. Sebagai nelayan, ia dan warga lainnya, hanya mendapat dana stimulan dari dinas perikanan Kota Batam. Sedangkan untuk bantuan segar kepada pelaku usaha rumahan di kampung itu, mereka mengaku tak pernah mendapatkannya.

Kepada warga Tiangwangkang, Sukenty Parapat, sekretaris DPD Geomaritim, mengatakan, mereka telah mencatat apa yang menjadi keluhan masyarakat. Terkait harapan warga, Geomaritim menyampaikan, akan memfasilitasi hal tersebut. “Pengajuan rumpon ya. Kedua, memfasilitasi supaya Dinas Pariwisata Kota Batam meninjau langsung,” kata Sukenty. Terakhir, Petra mengatakan, melalui kunjungan sosial ke pemukiman warga kampung tua Tiangwangkang, apa yang menjadi aspirasi warga, Geomaritim bisa menjembatani harapan tersebut, untuk meningkatkan perekenomian warga setempat. “Kegiatan sosial ini dapat memotivasi para nelayan kita. Geomaritim selalu siap mendampingi warga. Kiranya harapan masyarakat tercapai, melalui kerja sama, di samping pengembangan lainnya,” kata Petra. Turut hadir dalam aksi sosial itu, Yudhy Sanjaya, Ketua Koperasi Geomaritim Kepri, Bungaran Togatorop, dan Sunly Manurung.

(Nilawaty Manalu)

BACA:  Masyarakat Adat Desak Konsesi Hutan PT Toba Pulp Lestari Dicabut

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *