Di Tanah Hindu Banyuwangi Itu, Arabisasi Dipaksakan Tumbuh

PROJUSTISIANEWS.ID — Saya tidak cukup punya bukti untuk menunjuk Menpar Arief Yahya kader PKS. Meskipun di masa lalu ia pernah dekat fengan Tifatul Sembiring. Saat itu dia adalah Dirut Telkom. Sementara Tifatul adalah Menkominfo.

Memang ada bau anyir dalam hubungan mereka. Namun aparat hukum tidak menemukan bukti. Kasus proyek Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) senilai Rp. 78 miliar berakhir tak jelas.

Belakangan ini manuver Arief di bidang kepariwisataan terlihat agresif condong ke kanan. Pariwisata halal atau syariah menghadirkan kedunguan dalam pelaksanaannya. Contoh yang telah berjalan adalah pantai Santen di Banyuwangi. Wisata halal telah bergeser menjadi pengkultusan agama dan kelompok tertentu.

Di pantai itu, pengunjung laki-laki dan perempuan dipisah. Bupati Banyuwangi adalah orang yang terobsesi pada hal-hal berbau doktrin keagamaan. Di daerahnya, hotel-hotel tak diberi izin jika tidak membangun musala lebih dulu. Azwar Anas bahkan membuat analogi tentang mayoritas dan minoritas. Satu istilah yang melambangkan ketidak-cerdasan penuturnya karena timbunan dogma.

Azwar mungkin lupa, Banyuwangi atau Blambangan adalah kisah nyeri tentang kekalahan. Osing, atau suku Osing adalah orang-orang yang menolak tunduk pada penjajahan. Mereka adalah rakyat kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa yang dibumi-hanguskan. Enam puluh ribu nyawa waktu itu dibunuh lasykar Madura dan Belanda. Perang Puputan Bayu itu pula yang menyebabkan kehinduan nyaris lenyap di sana.

Lalu orang-orang yang datang kemudian dengan agama baru itu, menyombongkan diri sebagai mayoritas. Termasuk Bupati yang tak tahu diri itu. Mereka lupa bahwa Osing sendiri secara leksikal berarti yang tidak. Mereka bukan Madura, bukan Bali, bukan pula Jawa (Mataram). Mereka orang-orang yang menolak tunduk.

Setelah kekalahan yang telak itu, tanah Blambangan kosong. Para pendatang dari Jawa dan Madura mengambil-alih. Sejak saat itu, para pendatang ini menganggap merekalah pribumi di sana. Antek-antek Belanda itu bersukacita di atas bau bacin mayat rakyat Blambangan.

Kekalahan Osing mempertahankan tanah Blambangannya belum selesai. Setelah penjajah bule kabur, penjajah lokal masih saja belum puas menghancur-leburkan mereka. Kini ke-osingan mulai mendapat tantangan lebih serius dari doktrin agama. Tanah mereka mulai dipetak-petak sesuai tafsir sekelompok moron tekstual.

Penjajahan model baru itu masuk lewat pariwisata, melalui doktrin syariahnya. Pantai Santen mulai diarabkan. Pengunjung dipisahkan berdasarkan jenis kelaminnya. Percontohan itu dianggap sukses. Tempat-tempat lain menunggu pencaplokan. Untuk segera diarabkan.

Bahkan jika tak mendapat pertentangan, Bali dan Labuan Bajo juga tak luput dianeksasi. Kabar terakhir menyebutkan, Gunung Rinjani nyaris disyariahkan.

Proses arabisasi melalui pariwisata itu berjalan mulus karena mendapat restu dari Menpar Arief Yahya. Ia yang juga lahir di Banyuwangi, merasa punya tanggung-jawab untuk melebur sisa-sisa keosingan di sana. Dengan memaksakan syariat islam di tempat pariwisata.

Kasaklekan Azwar Anas mendapatkan tempat untuk bertumbuh. Wisata halal diterjemahkan sebagai islamisasi kepariwisataan. Padahal, mestinya, wisata halal hanya menyediakan kebutuhan wisman muslim. Bukan mengubah tatanan pariwisata dengan dogma islam.

Tetapi kesalah-kaprahan itu terlanjur dilakukan. Banyuwangi telah berhasil menjual keindonesiaannya demi Riyal dan Dinar. Menpar tahu, tidak ada dasar untuk menjalankan doktrin keislaman dalam pariwisata. Oleh sebab itu ia menyorongkan Jokowi agar menandatangani Peraturan Pemerintah tentang Jaminan Produk Halal (PP JPH).

Untuk diketahui, Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah telah dicabut. Proses PP Produk Halal sebagai gantinya, ditargetkan rampung tahun ini. Sebelum PP itu diteken Jokowi, islamisasi melalui Wisata Halal adalah tindakan ilegal.

Keturunan orang-orang yang dulu memusnahkan leluhur Blambangan rupanya belum puas juga. Para pendatang itu memaksakan keislaman tumbuh semena-mena di tanah bekas kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa. Anak-anak Osing telah lupa jatidiri mereka. Di bawah panji kolonialisme Belanda, leluhur mereka mengalami genosida. Di bawah panji Indonesia, keosingan mereka mulai diarabkan.

Hari ini segala sesuatu berjalan semakin mengkhawatirkan. Indonesia mengalami kemunduran berpikir parah. Ada sekelompok orang yang masih dicambuk seperti budak di Aceh. Ada sebagian lagi mensyariahkan pariwisatanya di Banyuwangi. Rasanya sudah bukan seperti di Indonesia lagi.

Di kementerian pendidikan dan keagamaan, Indonesia telah lama kalah terhadap proses arabisasi itu. Kini di dunia pariwisata, misionoris mereka bergerak lincah ingin mempercepat kerusakan tersebut. Orang licin itu bernama Arief Yahya. Salah satu menteri yang dibanggakan Jokowi, karena dinilai berhasil mendongkrak devisa negara.

Misionoris-misionoris pengaraban itu ternyata jumlahnya banyak sekali. Tidak hanya di tempat ibadah dan dunia pendidikan, bahkan kini mereka mulai masuk ke pariwisata. Basis terakhir identitas kebudayaan kita. Mereka menggunakan kedok islam untuk mengubah Indonesia rasa Arab. Memilih diksi syariah atau halal agar tidak dicurigai.

Untuk menjadikan Indonesia seperti Suriah, mungkin membutuhkan proses lama. Tapi untuk mencabut jatidiri kebangsaan, proses itu sedang masiff berjalan ke sana.

Indonesia hari esok mirip seperti keadaan Osing dan Blambangan hari ini. Disebut-sebut sebagai pewaris kebudayaan, tapi hanya dalam slogan pariwisata dan buku-buku. Di dunia nyata, mereka telah lama disingkirkan. Atau diubah menjadi bentuk yang berbeda, yang bukan Osing dan Blambangan lagi.

Oleh: Kajitow Elkayeni

BACA:  Jeritan Rakyat Kecil Kepada Calon Kepala Daerah di Natuna Jelang Pilkada 2020

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *