Contemplatio Post-Natalis

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Walaupun masih ada saudara-saudara kita yang merayakan Natal, akan tetapi pada kebanyakan orang, terutama yang beragama Kristen Protestan, Perayaan Natal sudah usai. Yang tersisa hanyalah laporan pertanggungjawaban Panitia Perayaan Natal. Barangkali, yang berhutang ke salon, segeralah lunaskan itu. Panitia yang menomboki dana anggaran yang minus, relakanlah itu. Ada banyak berkat yang akan diberikan Tuhan kepadamu. Lagipula, upahmu besar di surga. Jemaat (kita) yang merayakannya, renungkanlah ini: “Seberapa sukacita hati kita hingga kini!?” Mungkin, pada saat berpesta Natal kita larut dalam sukacita. Akan tetapi, masih tersisakah itu hingga sekarang? Sekali lagi, marilah kita renungkan! Contemplatio post-natalis.

Yang pertama kita renungkan (kembali) adalah betapa Tuhan baik kepada kita, kita semua: panitia, pengkhotbah, penatua, jemaat, bintang tamu, tukang parkir, pengusaha catering, tukang lampet, penyewa sound-system, fotografer, tukang salon, tukang becak, supir angkutan online, dan yang lainnya. Karenanya, dan inilah renungan kedua, sebagai ikutan logis dari kebaikan yang kita terima dari-Nya, kita harus berbuat baik atau mulai sekarang kita harus lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya, di penghujung tahun ini, kita harus berikhtiar untuk melakukan satu kebaikan. Itulah resolusi post-natalis kita.

Menjadi lebih baik berarti ada selisih kebaikan antara yang sekarang (post-natalis) dengan yang sebelumnya. Menjadi lebih baik adalah tindakan aktif. Juga, itu adalah inisiatif pribadi (dari diri kita) untuk mengambil keputusan melakukannya. Yang lainnya, yang dari luar diri kita, adalah faktor pendukung atau pendorong.

Menjadi lebih baik juga berarti memberi kita peluang yang lebih besar menjadi sahabat bagi semua orang, karena dengan berlaku baik resistensi orang lain terhadap kita akan makin rendah. Akibatnya, kita menjadi lebih mudah diterima menjadi sahabat oleh orang lain. Ini selaras dengan tema Perayaan Natal Nasional: “Hiduplah sebagai Sahabat bagi Semua Orang!”

Paling tidak, ada tiga cara untuk menambah sahabat kita. Yang pertama adalah mengganti musuh menjadi sahabat. Caranya adalah memaafkannya. Kembali, ini memerlukan tindakan aktif dan inisiatif. Memang, ini sulit, tetapi bukan berarti tak bisa. Yang kedua adalah mengupayakan sahabat baru. Pada saat yang sama, kita harus memelihara persahabatan yang sudah kita miliki. Ini juga tak kalah sulitnya. Pendapat umum menyatakan bahwa sangatlah mudah mencari 1.000 orang musuh. Yang sulit adalah mendapatkan seorang sahabat dan memelihara persahabatan dengannya.

Untuk memulainya, marilah kita, masing-masing, memilih salah satu resolusi kebaikan yang akan kita lakukan pada 2020. Ambil saja salah satu contoh kebaikan menambah satu orang saja sahabat setiap minggu di tahun depan, maka kita masing-masing akan mendapatkan 52 orang sahabat baru pada 2020. Kalau itu terjadi pada setiap orang, akan ada ribuan, bahkan jutaan sahabat, yang tercipta. Karenanya, kita akan berada di jalur yang benar menuju Menjadi Sahabat bagi Semua Orang itu. Dan, impian bersama kita akan Indonesia, bahkan dunia, yang aman dan damai bukanlah fatamorgana belaka.

Selamat natal dan selamat berkontemplasi!

Penulis: Albiner Siagian

BACA:  Passport

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *