Brutal Tourism vs Local Wisdom

PROJUSTISIANEWS.ID, JAKARTA — Brutal Tourism vs Local Wisdom, apa maksudnya? Anda dapat melihat dua gambar di atas cara penyajian makanan yang dapat menjelaskan pertanyaan tersebut.

Perhatikan gambar di sebelah kiri, yaitu makanan khas Batak saksang yang ditempatkan dalam wadah ember. Kita semua tahu apa fungsi ember dalam kehidupan sehari-hari. Siapa yang tahu ember bekas apa yang dipakai untuk wadah saksang tersebut? Hal-hal seperti ini cukup sering kita lihat dalam acara pesta orang-orang Batak di kampung (bonapasogit).

Sebaliknya, Anda bandingkan makanan yang tersaji secara higienis di atas meja. Setiap orang pasti merasa senang disajikan makanan yang higienis seperti ini.

Kitchen utensils” (peralatan dapur) adalah salah satu barometer hospitalitas (keramahtamahan). Pada gambar di kanan jelas terlihat dan dapat dirasakan hospitalitas yang menyajikannya. Sebaliknya, gambar makanan dalam ember tersebut dipertanyakan hospitalisnya. Bahkan, hal itu terkesan butal (serampangan, sembarangan, atau tidak tahu aturan).

Hospitalitas adalah salah atu kearifan lokal yang kita yakini ada di setiap suku yang tersebar di Nusantara. Pertanyaannya adalah apakah orang Batak memiliki hospitalitas? Ya, tentunya ada. Namun, mengapa hospitalitas itu memudar dan bergeser menjadi brutalitas? Pertanyaan ini menjadi otokritik bagi setiap orang Batak.

Orang Batak di zaman ompung-ompung (nenek-kakek moyang) kita sebenarnya adalah orang-orang yang berhospitalitas. Entah mengapa makin maju orang Batak di luar kampungnya, makin memudar nilai-nilai local wisdom (kearifan lokal) yang diwariskan kepadanya? Memang tidak semua orang Batak seperti itu, tetapi kecenderungannya kebanyakan orang Batak seperti itu.

Kita perlu berbenah diri. Nilai-nilai kearifan lokal perlu dibangun atau lebih tepatnya dibangkitkan kembali untuk diajarkan kepada generasi muda. Bukan hanya suku Batak, tetapi suku-suku lain pun yang menjadi kekayaan budaya Nusantara perlu dipelihara dan dilestarikan.

Mari kita berlomba melestarikan kearifan lokal masing-masing. Indonesia selain memiliki kekayaan sumber alam yang melimpah, juga memiliki kekayaan budaya yang tak tertandingi.

Urusan pariwisata bukan melulu soal perekonomian, tetapi bagaimana kearifan lokal menjadi penyambut para tamu yang datang ke daerah kita.

Salam budaya.

Penulis: Boy Tonggor Siahaan dan Jhon Kennedy

BACA:  Jhon SE Panggabean SH, MH: Hentikan Tindakan Main Hakim Sendiri dan Tegakkan Hukum

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *