BNI Sudah Siap Rugi Ngutangin KS dan Duniatex

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sudah siap rugi dalam kasus pinjaman ke PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan Duniatex. Ini terlihat dari kenaikan provisi kredit ke dua perusahaan manufaktur tersebut.

Dalam laporan riset Trimegah, belum lama ini, disebutkan, emiten berkode saham BBNI itu diprediksi menaikkan provisi pinjaman ke Krakatau Steel alias KS menjadi 80% dari sebelumnya 30%. Nilai kenaikan provisi mencapai Rp 3 triliun. Sementara itu, untuk pinjaman ke konglomerasi tekstil, Duniatex, BNI menambahkan provisi Rp 547 miliar, sehingga rasionya mencapai 100%.

Terkait pinjaman Rp 4 triliun ke perusahaan perkebunan swasta, Trimegah memprediksi perusahaan yang bersangkutan mampu membayar cicilan plus bunga, seiring lonjakan harga sawit sebesar 56% dalam enam bulan. BNI tercatat memiliki kredit senilai Rp 585 miliar ke perusahaan penerbangan swasta.

Setelah penerapan PSAK 71, Trimegah memprediksi, BNI menaikkan provisi Rp 15 triliun tahun ini. Alhasil, cakupan provisi pinjaman dalam risiko (loan at risk/LAR) BNI mencapai 60%, dari kuartal III tahun lalu sebesar 32%.

Jumlah itu setara dengan cakupan provisi LAR PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 69%, setelah provisi Rp 25 triliun tahun ini.

BACA:  BNI Sudah Siap Rugi Ngutangin KS dan Duniatex

“BNI kini memiliki satuan kerja yang menangani LAR, seperti mencarikan investor, menjual aset, dan merestrukturisais pinjaman. Unit ini aktif bekerja sebelum status kredit diturunkan ke kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL),” tulis Trimegah.

Trimegah mencatat, pergerakan harga saham BBNI tertinggal 11% dari BMRI dalam tiga bulan. Alhasil, saham BBNI kini diperdagangkan dengan diskon 6% PBV 2020, di bawah tiga tahun terakhir.

Salah satu kekhawatiran investor adalah lambannya BNI dalam menghadapi LAR, terlihat dari stagnasi cakupan provisi LAR. Sebaliknya, Mandiri dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) agresif menaikkan cakupan provisi LAR dalam empat tahun terakhir.

Per Desember 2019, LAR BNI mencapai Rp 49 triliun, naik dari 2018 Rp 40 triliun. Rasio LAR, yang terdiri atas kredit dalam perhatian khusus (special mention loan/SML) dan kredit macet mencapai 9,4%.

BACA:  Catatan Positif Kinerja BNI di 2019

Hal ini terjadi seiring penurunan peringkat kredit ke perusahaan baja nasional. Emiten berkode saham BBNI ini pun menaikkan provisi dari Rp 15,8 triliun menjadi Rp 30,8 triliun Januari 2020, sesuai penerapan PSAK 71 alias IFRS 9.

Trimegah mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 9.800, naik dari Rp 9.300. Risiko saham BBNI adalah kondisi makro ekonomi yang merugikan serta intervensi pemerintah terhadap bunga kredit bank. (marketmover.id)

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *