Benny: Yang Dikelola Asetnya Siapa?

Projustisianews, Batam – Perihal aset yang dikelola Badan Pengusahaan (BP) Batam, Benny Andrianto Antonius, Presiden Direktur PT Adhya Tirta Batam (ATB), tidak menampik hal itu. Tetapi Benny bertanya: “Yang dikelola asetnya siapa?” Bila BP Batam merasa aset yang dikelola itu adalah aset negara: “Anda salah total. Aset yang dibangun oleh PT ATB, satu sen pun tidak ada uang negara.” Pernyataan itu dilontarkan Benny kepada Ibrahim Koto. Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 27 tahun 2014 tentang barang milik negara yang disebut sebagai kerjasama, ia mengatakan tidak usah memperdebatkan urusan aset, saat rapat dengar pendapat umum (RDPU) gabungan, di Kantor DPRD Kota Batam, Kepulauan Riau, Jumat 25 September 2020 lalu.

Bila BP Batam harus menempuh jalur hukum, Benny mengatakan akan membuktikannya di pengadilan nanti, apakah upaya yang telah dilakukan oleh BP Batam itu melanggar hukum atau tidak. Katanya: “Nanti kalau saya sita file di pengadilan, kita akan lihat nanti.” Oleh karena itu, ia berharap masalah aset tidak perlu diperdebatkan di dalam RDUP, karena menurutnya ada pihak yang lebih berwenang untuk menangani hal itu.

Saat rapat itu juga, Benny, menyelentik pernyataan Ibrahim Koto, pasca tanya jawab peralihan aset pengelolaan air bersih yang dikelola oleh PT ATB selama ini. Sebelumnya, Ibrahim Koto, General Manager Sumber Daya Air, Limbah dan Lingkungan Badan Pengusahaan (BP) Batam, mengatakan masih menunggu etiket baik dari PT ATB untuk menyerahkan aset yang digunakan PT ATB.

Benny pun menjawab, ia tidak mau berdebat dengan BP Batam, mempersoalkan ranah hukum yang akan diambil oleh BP Batam. Kita buktikan nanti, kata Benny, bila pun akhirnya harus berurusan dengan hukum. Ia berkata: “Dan janganlah menggunakan istilah suka tidak suka, mau tidak mau. Saya tidak mau. Terus Anda mau apa, coba!”

Karena Ibrahim Koto selalu menggunakan istilah suka tidak suka, mau tidak mau dalam rapat itu, Benny menegurnya dan mengingatkan agar jangan memperlihatkan sikap arogansi dengan menggunakan istilah suka tidak suka, dan mau tidak mau. Dua kali Benny mengatakan: “Suka tidak suka, mau tidak mau. Saya tidak mau. So what. Tidak selesai kan?”.

Daripada sikap arogansi yang menurut Benny selalu dipertunjukkan Ibrahim sebagai utusan BP Batam waktu itu, lebih baik membahas kematangan SPAM (sistem penyediaan air minum) di Kota Batam, sesuai dengan peraturan yang berlaku, agar masyarakat Kota Batam tidak dirugikan pasca peralihan pengelolaan air. Waktu Benny mengatakan kepada Ibrahim: “Anda baru lahir di Batam. Kita sudah melakukan pekerjaan ini 25 tahun,” Ibrahim menyeletuk: “Jangan sampai menunjuk orang ya. Izin, Dewan ya.”

Selama 25 tahun mengelola air, menurut Benny, hal itu adalah perjuangan yang sangat berat dan keras. Ketika BP Batam merasa benar dalam masalah sekarang ini, ia menampik. Terkait upaya yang akan dilakukan BP Batam dengan pelelangan, ia mengatakan: “Kita lihat saja bagaimana tindakannya.” Ia tidak mau memperdebatkusirkan sesuatu yang tidak dibaca, karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Ibrahim berulangkali menyampaikan dalam rapat itu, jika PT ATB tidak memiliki etiket baik. Untuk itu, BP Batam dan negara tidak akan tinggal diam di tengah persoalan antara BP Batam dan PT ATB. Masa transisi akan dilewati, baik antara PT ATB dengan BP Batam, dan PT Moya sebagai mitra sementara BP Batam yang bertindak sebagai operator. Ibrahim menjelaskan kalau saat ini tim sudah dibentuk, inventarisasi sedang berjalan dengan konsultan surveyor Indonesia.

Keputusan BP Batam, menurut Ibrahim tidaklah tergesa-gesa. Bagaimana pun yang merasakan perjanjian itu adalah pihak yang berjanji. Hubungan-hubungan antara yang satu dengan yang lain pihak, itu tidak mungkin diketahui publik semuanya. Secara yuridis, ia mengatakan: “Perjanjian itu adalah hukum yang mengikat sesuai dengan KUHP-KUHPerdata satu… satu… e… di mana perjanjian dalam undang-undang bagi kedua belah pihak.” Perihal PT ATB tidak mau menandatangani, katanya, tanggal 14 November nanti, konsesi itu harus berakhir. “Suka tidak suka, mau tidak mau memang itu harus berakhir. Bukan kita mau gagah-gagahan,” kata Ibrahim. (Nila)

BACA:  Bertambah, 3 Pasien Covid Dinyatakan Sembuh, Dua Diantaranya Dari RSUD Embung Fatimah

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *