Bank of Cina Tidak Transparan Terhadap Nasabah serta Melakukan Kelalaian

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Sidang pada hari ini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan adalah klien kami PT Megatama Citra Mandiri melawan Bank of China di mana pihak Bank tersebut telah melakukan lelang berupa Satu Rumah yang mana sampai saat ini masih berproses tahap naik banding, Rabu (4/12/2019).

Henri Lumban Raja SE, SH, MH mengatakan bahwa pihak Bank of China tidak transparansi di dalam memberikan angka-angka atau kewajiban yang muncul terhadap debitur, tidak bisa menyatakan kami punya sistem sendiri. Dan klien saya juga PT. MCM ini tidak tahu sampai sekarang itu berapa sebenarnya Kewajiban Pokok, Kewajiban Bunga, Kewajiban Denda dan mereka tidak tahu dari mana asal-usulnya itu. Dia hanya menerima aja. Jadi ini membuat suatu informasi yang tidak bisa diketahui oleh kedua pihak jadi tidak ada keseimbangan.

Yang berikutnya dalam perhitungan bunga denda itu kan ada turun naik daripada bunga di Indonesia, mereka juga tidak pernah tahu kan bahwa sudah naik atau turun mereka sendiri yang tahu itu, jadi ini kan terjadi ketidakseimbangan informasi juga. Hal seperti ini berbahaya karena bisa saja debitur yang lain pun seperti itu. Jadi ini harus dikontrol oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Sebenarnya OJK terkait operasional dari pada Bank of China itu seperti apa standar operasional mereka dalam melakukan perhitungan-perhitungan dan melakukan suatu peraturan-peraturan itu, sejauh mana dia mematuhi peraturan-peraturan yang ada di Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia maupun OJK, ujarnya.

Henri menambahkan bahwa tidak ada penetapan dari pengadilan atas terjadinya lelang, karena itu sudah diatur di dalam peraturan bahwa setiap lelang itu harus ada penetapan dari pengadilan karena apa bisa seperti itu bahwa masyarakat Indonesia itu tidak begitu merata pengetahuan hukumnya. Ada yang pintar, ada yang sedang-sedang, dan ada yang buta hukum. Di sinilah sebenarnya kenapa mesti ada penetapan dari pengadilan, supaya pengadilan nanti bisa menimbang, bisa saja kan ada pelelangan terjadi tapi di belakang itu kan ada masalah.

Inilah yang sebenarnya yang menjadi seharusnya dipertimbangan oleh pengadilan, itulah dasarnya penetapan itu ada.

Marketing daripada Bank of China ini adalah boleh dibilang dalam memberikan pinjaman itu tidak profesional di dalam memberikan nilai yang seharusnya dia harus menyesuaikan sesuai kebutuhan dan jaminan itu, misalkan seharusnya yang diminta itu 22 m 500 juta ya kan karena ini sudah dibicarakan sebelumnya tetapi mereka menyetujui 17 m 350 juta. Permasalahannya adalah kalau mereka tidak bisa melakukan ini 22,5 ratus ini seharusnya tidak disetujui supaya kita tidak meminjam lagi nanti kesana ternyata officer BOC ini yang namanya siapa namanya Iwa Irawan ini menjanji-janjikan bertahap katanya, padahal tunggu-tunggu juga tidak ada turun, artinya apa kita ini akibat kurangnya modal pabrik tidak bisa jalan karena modal kerja tidak bisa.Seharusnya kan mereka sudah bisa menghitung itu kalau itu tidak diberikan maka ini tidak layak diberikan pinjaman.

Jadi mereka itu hanya memberikan tapi tidak memperhitungkan sejauh mana nanti dampaknya, nah itu mereka tidak hitung seperti itu.

Yang berikutnya adalah BOC juga ya diawalnya itu tidak pernah memberikan surat penawaran menyetujui atau tidak, jadi transparansi administrasi ini luar biasa, itu sudah standart seperti yang saya katakan tadi ada transparansi, kalau misalkan saya minta 22 m 500 juta mereka kan harus menyatakan menyetujui atau tidak dalam surat supaya setiap peminjam itu apakah ia mengajukan melanjutkan atau tidak. Peminjam akan berpikir kembali tidak melanjutkan pinjaman dari bank lain gitu loh ini, hal inilah yang perlu diperhatikan pihak OJK agar bank-bank seperti ini layak di audit supaya tidak terjadi apa pemberian kredit asal-asalan, karena bank itu tujuan utamanya dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat, jadi setiap pinjaman yang diberikan oleh bank tujuannya adalah meningkatkan taraf hidup masyarakat bukan tujuannya adalah membuat perusahaan itu jadi macet atau jadi gulung tikar.

Karena perusahaan itu meminjam itu kan untuk membuat usahanya berkembang bukan untuk ditutup, gitu loh ini perlu hati-hati ya hal-hal seperti ini menjadi perhatian OJK agar bank-bank seperti ini dilakukan audit Seperti apa operasional mereka di dalam memberikan kredit, karena hal ini sudah berdampak pada masyarakat terjadinya pengangguran.

Kenapa OJK lalai mengawas BOC dalam memberikan kredit, BOC yang tidak transparansi, juga kenapa BOC bisa sampai memberikan pinjaman tidak melakukan melakukan analisa yang bagus layak tidaknya ini diberikan sehingga nanti usaha ini tidak macet, yang bisa merugikan kedua belah pihak. (indonesianpost.net)

BACA:  Polisi Tangkap Pria di Garut Terkait Game Nabi Muhammad

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *