Anak Terpapar Covid-19 Terus Bertambah, Ini Respons Komnas Perlindungan Anak

JAKARTA, PROJUSTIANEWS.ID — Seorang remaja WR usia 16 tahun berstatus pelajar SMP warga Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara dilaporkan Dinas Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Deliserdang meninggal dunia karena positif terinsfeksi virus Corona, Jumat (17/4/2020). Jenazah WR sudah dikebumikan dengan menggunakan Protap Kesehatan Covid 19 di desanya.

Sementara itu dikabarkan seorang remaja berusia 14 tahun di Kabupaten Banjar, Jawa Barat justru dinyatakan sembuh dari serangan wabah Covid-19 setelah korban mendapatkan pelayanan intensif dari rumah sakit.

Di samping itu Pelaksana tugas Dinas Kesehatan dan RSUD Kadungga Sangatta, Selasa 14 April 2020 melaporkan bahwa berdasarkan hasil rapid test ditemukan seorang balita 10 bulan di Kutai Timur positif terinfeksi Virus Corona dan saat ini balita 10 bulan itu sedang menjalani isolasi di rumah dengan pengawasan.

Dinas Kesehatan di Kalimantan Timur juga melaporkan bahwa di Kaltim ditemukan 34 usia anak dalam kondisi PDP dan perlu mendapat penanganan yang serius.

Sementara itu, di Kabupaten Pulau Samosir dikabarkan sejumlah media di Pangururan ada seorang anak berusia 1 tahun dinyatakan positif terinfeksi pandemi Covid-19, namun sial tidak mendapatkan perawatan medis dengan baik dan memadai dari Dinas Kesehatan. Bahkan dikabarkam dua rumah sakit yakni RSUD Tarutung dan RSUD di Samosir saling lempar tanggungjawab dengan alasan tidak mempunyai ruang isolasi.

Demikian juga yang dialami seorang anak usia 1.5 tahun di Manado, anak yang dilaporkan terpapar virus corona dari ayahnya yang dinyatakan PDP virus corona terpaksa di isolasi di Rumah Sakit.

Menurut catatan Komnas Perlindungan Anak bahwa di Indonesia saat ini ditemukan 37 anak dalam kondisi PDP, 1 orang anak meninggal dunia dan 1 anak sembuh dari serangan pandemi Covid-19.

Itu artinya, dari beberapa kasus yang dilaporkan dan terkonfirmasi dari berbagai daerah kepada Komnas Perlindungan Anak bahwa serangan wabah Covid-19 saat ini sedang menyasar anak-anak berusia di bawah 18 tahun dan tidak terlepas anak-anak berusia di bawah 5 tahun.

Oleh karenanya, untuk memberikan perlindungan bagi anak dan demi kepentingan terbaik khususnya kesehatan anak sangat dibutuhkan gerakan nasional perlindungan anak dari serangan Pandemi Covid-19, dan gerakan memutus mata rantai virus corona dengan menggunakan gerakan sistim kedaruratan.

“Data terkonfirmasi ini perlu diwaspadai karena telah menunjukkan bahwa anak-anak di Indonesia sudah mulai menjadi sasaran pandemi Covid-19,” ujar Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak pada Rabu (22/4/2020) di kantornya di sela-sela kegiatannya menyerahkan bantuan sosial kemanusiaan kepada anak-anak warga Cengkareng dan Cipayung Jakarta Timur.

 

BACA:  Pemuda Katolik dan DPD RI Kepri Gaungkan Cintai Produk Buatan Indonesia
Arist Merdeka Sirait (Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak)

Oleh karenanya, Komisi Nasional Perlindungan Anak yang diberi tugas untuk memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia, meminta dengan sangat kepada Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 untuk bersedia memberi kabar atau data nasional yang terkonfirmasi berapa sesungguhnya jumlah usia anak baik laki-laki dan perempuan yang positif terinfeksi Covid-19, dan berapa pula jumlah anak berdasarkan klasifikasi usia dan jenis kelamin yang meninggal dunia. Demikian juga berapa anak-anak yang sembuh dari serangan wabah Covid-19 di Indonesia.

Data yang terkonfirmasi ini sangat diperlukan Komnas Perlindungan Anak dan para pegiat perlindungan anak di daerah untuk dipakai menyusun arah dan strategi kebijakan melawan pandemi Covid-19 dan arah perlindungan anak yang mempunyai perspektif hak-hak anak dasar anak.

Dengan data yang terkonfirmasi itu, Komnas Perlindungan Anak bersama Lembaga Perlindungan Anak (LPA) se-Nusantara dapat memberikan masukan-masukan terhadap kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di masing-masing daerah khususnya anak yang berada pada zona merah pandemi Covid-19 agar kebijakan PSBB yang ditetapkan pemerintah sungguh-sungguh mempunyai sensitivitas terhadap anak serta kebijakan PSBB sungguh-sungguh mengedepankan atau mengutamakan kepentingan terbaik anak khususnya kesehatan anak.

Dengan gerakan nasional terpadu itu hak-hak dasar anak seperti hak anak mendapatkan hak atas kesehatan serta hak anak atas makanan yang dapat meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh terhadap serangan wabah corona selama anak di rumah saja bermain, tinggal, belajar, dan beribadah tidak terabaikan. (Boy Tonggor Siahaan)

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *