Aliran Sesat di Papua Ganti Salib Jadi Segitiga

MIMIKA BARU, Kabarsuka.com — Kelompok aliran sesat di Papua yang mengganti salib dengan segitiga diringkus polisi atas laporan warga setempat. Mereka diamankan pada Minggu (28/7/2019) di tempat peribadatan mereka di Jalan Petrosea, Irigasi, Distrik Mimika Baru, Papua. Di tempat tersebut diamankan 1 meja kayu berbentuk segitiga warna cokelat, 2 spanduk bergambar cakra bertuliskan putra api dan roh, 1 spanduk bertuliskan cakra delapan, 2 bingkai bergambar hati malaikat bumi bertuliskan putra api, 4 bingkai pedoman petunjuk arah hidup, 5 kain selendang warna kuning biru dan keemasan, 1 meja papan terbungkus kain warna biru, 2 tempat untuk bakar kemenyan, 1 bantal, dan 1 tikar.

Kelompok aliran sesat ini menamakan dirinya Kelompok Doa Hati Kudus Allah Kerahiman Ilahi yang didirikan dan dipimpin seorang laki-laki bernama Salvator Kemuebun. Bersama David Kanangopme (45) dan Yohanis Kasamol (65), polisi telah menetapkan ketiganya sebagai tersangka penistaan agama. Namun demikian, polisi masih memburu Salvator dan dimasukkan ke dalam DPO (Daftar Pencarian Orang).

Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto mengatakan bahwa kelompok ini telah memakai Kitab Suci Agama Katolik, tetapi ajarannya menyimpang jauh dari ajaran Katolik yang sebenarnya. Berdasarkan keterangan polisi, kedua orang yang sudah diamankan polisi, yaitu Johanis Kasamol adalah mantan pejabat di Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Timika dan David Kanangopme adalah aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkab Mimika yang masih aktif.

Lebih lanjut Kapolres Mimika menegaskan bahwa Kelompok tersebut sudah ada sejak 2010. “Awalnya kelompok ini mengajarkan ajaran yang sama dengan Agama Katolik. Namun, lama kelamaan kelompok ini justru menyimpang dari ajaran Katolik,” kata Agung, Sabtu (3/8/2019).

Sebelum menetapkan pengikut kelompok ini sebagai tersangka, polisi telah meminta keterangan saksi ahli dari Kasi Urusan Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Mimika dan melakukan klarifikasi dengan Pastor Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan Lambertus Nita, OFM. “Kelompok ini memang sangat menyimpang dari Agama Katolik, sehingga kami menyesal dan saya menyerukan dari mimbar untuk mengamankan,” kata Pastor Lambertus.

David Kanangopme selaku pembina kelompok tersebut mengatakan awalnya mereka sebagai umat Katolik dan hanya membentuk sebuah kelompok doa. Ritual peribadatan semula masih sesuai ajaran Katolik, seperti tanda salib dan kalimat sahadat. Namun karena terpengaruh Salvator Kemeubun, peribadatan mereka berubah. Pemimpin mereka, Salvator mengaku sebagai nabi atau putra api dan roh yang setara dengan Yesus Kristus.(kompas.com)

BACA:  Nasehat Emas B. J. Habibie Sebelum Meninggal

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *